Entah
berapa lama dan berapa sering aku duduk termenung sambil memegang satu-satunya
kenangan pada saat aku SMA. Ya, album kenangan inilah yang bisa mengobati rasa
rinduku pada teman-temanku. Tapi ketika aku berhenti pada satu nama, aku bisa
menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperhatikan detail wajahnya. Dia adalah
Irwan. Sebenarnya dia tidak terlalu tampan, dia juga bukan anak yang populer di
sekolah, dia juga termasuk anak yang pendiam. Tapi semua itulah yang membuat
aku simpati padanya. Kekagumanku bermula saat aku dan Irwan sama-sama menginginkan
sebuah buku di perpustakaan sekolah. Kebetulan buku tersebut hanya ada satu.
Dan Irwan pun merelakan buku itu untukku. Sejak saat itu aku mulai
memperhatikan dia. Tapi, sepertinya dia tidak tau dan tidak mau tau akan hal
itu. Itu pun bukan satu-satunya alasan mengapa aku tidak bisa bersama irwan. Dia terlalu pendiam dan mana
mungkin dia mau membuang waktu untuk memperhatikan aku???. Karena alasan-alasan
itulah aku memutuskan untuk memendam bahkan mengubur perasaanku terhadap Irwan
sedalam-dalamnya. Meskipun didalam hati aku tetap berdo’a kepada Tuhan agar
kelak aku bisa dekat dengan Irwan walaupun hanya sebatas teman.
*******
Ternyata Tuhan
mendengar do’aku. Ketika aku menginjak kelas tiga, aku satu kelas dengan Irwan.
Kekagumanku terhadap Irwan bertambah ketika aku tau dia adalah cowok yang
pintar menggambar. Pada pertengahan semester satu, sekolahku mengikuti sebuah
lomba karya ilmiah di Jogja. Aku berkesempatan untuk mewakili sekolahku bersama
Andika. Dia adalah sahabat Irwan. Aku merasa nyaman berada didekat Andika,
namun aku tidak tau apakah rasa itu murni terhadap Andika ataukah karena banyak sekali
kemiripan antara sifat Andika dengan Irwan. Di sekolah, aku mempunyai seorang
sahabat, dia bernama Riska. Aku dan dia begitu akrab. Dan dia adalah
satu-satunya orang yang tau tentang perasaanku pada Irwan, setelah ibuku
tentunya. Dan satu hal lagi, Riska itu menaruh simpati pada Andika, aku pun
mengamini saat Riska memintaku menjodohkannya dengan Andika. Sedangkan Irwan,
dia tetap seperti dulu. Dia sibuk dengan dunianya sendiri dan tak pernah
memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Termasuk aku. Meskipun begitu
perasaanku terhadap Irwan tidak pernah berubah, malah semakin dalam. Dan aku
pun membiarkan semuanya mengalir laksana air yang tenang. Aku tidak mau
memaksakan kehendakku terhadap Irwan.
*******
Hari demi hari
berlalu, hingga pada suatu hari Andika memintaku untuk menemuinya sepulang
sekolah. Aku kira dia ingin membicarakan perihal hubungannya dengan Riska yang semakin
dekat. Namun aku salah. Dia justru memintaku untuk menjadi kekasihnya....
“oh tuhan, cobaan
apalagi ini “ (pikirku).
Aku
hanya diam dan tidak berani memandang wajah Andika. Aku sungguh bingung. Aku
tak tau apa yang harus aku lakukan. Sampai akhirnya Andika pun berkata “Mel,
aku tidak akan memaksamu. Aku sanggup menunggumu. Besok aku tunggu kamu di
tempat dan jam yang sama ya...” Kemudian Andika pun pergi berlalu.
*******
Keesokan
harinya aku tidak datang ke sekolah. Kepalaku sungguh pusing. Aku pun tidak
siap jika hari ini aku harus bertemu dengan Andika. Tapi perkiraanku salah, sepulang
sekolah Andika datang ke rumahku bersama Riska. Dan entah dari mana datangnya
keberanian itu, sehingga aku sanggup membicarakan apa yang sedang kurasa kepada
Andika dan Riska.
“Dika, sebelumnya
aku minta maaf karena aku tidak bisa menerimamu.” Ucapku lirih
“Maksud kamu apa
Mel?” Riska telihat kaget mendengar ucapanku
“Sebaiknya kamu
bertanya pada Andika.”
“Aku kemarin
mengutarakan perasaanku kepada Melisa. Maafkan aku Ris, aku tidak bermaksud
menyakiti hatimu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku telah
jatuh cinta terhadap Melisa sejak kami mengikuti lomba di Jogja.” Andika
berucap dengan wajah tertunduk
“ Aku tau hal itu
Dika, sesungguhnya aku dapat merasakan perasaanmu terhadap Melisa dari cara
kamu menatap Melisa. Aku pun tidak keberatan jika kamu bersama Melisa” (sambil
menyatukan tangan Melisa dan Andika)
(melepaskan tangan
Andika) “ Aku tidak mungkin menerimamu Dika, karena semua hatiku telah aku
berikan kepada orang lain”
“Maksud kamu?”
Andika terlihat kaget
“Aku sudah lama
menyimpan perasaan terhadap sahabatmu.”
“Irwan???” Wajah
tampan Andika menunjukkan kebingungan yang sangat.
“
Iya” Jawabku
Sejenak, kamar
Melisa menjadi sunyi. Dan dering hp Andika membuyarkan kesunyian tersebut.
“eh Mel, nyokap
sms nih, aku di suruh nganter belanja. Aku pulang dulu ya, Kamu pulang sendiri
nggak apa-apa kan
Ris??(sambil menatap Riska)”
“ Iya nggak
apa-apa, aku juga masih pengen ngobrol ama Melisa”
“ Kalo gitu aku
pamit ya Mel, kapan-kapan aku main kesini, sama Irwan deh....” (sambil
tersenyum)
Melisa
hanya mengangguk sambil tersenyum. Andika pun berlalu meninggalkan Melisa dan
Riska.
*******
Hari demi hari ku jalani. Aku, Riska, dan Andika
semakin akrab semenjak kejadian tiga bulan yang lalu. Aku pun tak lagi
mengharapkan cinta Irwan. Aku sadar tidak mudah mendapatkan sedikit tempat
dihatinya.
Aku memilih berkonsentrasi belajar, karena
UAN akan segera dilaksanakan. Sejenak aku menyingkirkan semua rasaku pada
Irwan. Entah mengapa aku sangat yakin suatu saat nanti Aku bisa memiliki
sesudut ruang dihati Irwan.
********
Setelah
satu bulan menanti pengumuman hasil ujian, Aku sangat bahagia, karena aku lulus
dengan nilai terbaik di sekolah, tapi seusai ujian, aku sama sekali tidak
pernah melihat Irwan. Untuk mengobati rasa penasaranku aku pun bertanya pada
Andika.
“Dika, aku kok
nggak pernah liat Irwan ya?” Tanyaku pada Andika.
“Dia kan sakit mel, masak
kamu nggak tau?” Jawab Andika.
“Sakit apa?”
“Aku juga kurang
tau sih Mel, kemarin aku ke rumah Irwan, kata pembantunya sih Irwan masuk rumah
sakit.”
“Apa??? Kok kamu
nggak ngasih tau aku sih Dik,,,”
“Aku kan baru tau kemarin
Mel, aku minta maaf deh nggak langsung ngasih tau kamu. Gini aja, gimana kalo
kita besok ke rumah sakit? Kamu ajak Riska sekalian.”
“Iya deh. Trus
kita ketemu dimana??”
“Di rumah kamu aja
Mel, soalnya tempatnya deket situ.”
“Iya udah terserah
kamu aja.”
“Ok. Sampai besok
Mel. ”
“Iya
Dika. Makasih sebelumnya”
********
Pukul 10 pagi, Andika dan Riska sudah
sampai di rumahku. Kami bertiga langsung berangkat menuju sebuah rumah sakit
yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah melakukan perjalanan kurang
lebih setengah jam, kami sampai pada tujuan. Hatiku tak karuan, aku merasa aku
tak akan bertemu lagi dengan Irwan.
“ suster, Irwan
Hadinata itu dirawat di kamar nomor berapa yah???” Tanya Andika di meja receptionist.
“ Mohon maaf,
adik-adik ini siapanya bapak Irwan?”
“ Saya sahabatnya,”
“ Sebentar ya,
saya cek dulu.’”
“Iya suster.”
Kami bertiga
terdiam dengan fikiran masing-masing. Dan ucapan suster itu pun membuyarkan
kebekuan kami.
“ Sayang sekali
dek,,, mas Irwan Hadinata sebelumnya memang dirawat disini. Tapi kemarin
keluarga bapak Irwan telah memindahkan beliau ke rumah sakit yang ada diluar
negeri.”
“Apa???” kami bertiga tersentak
“Kalau boleh tau,
Irwan sakit apa suater?”
“Mohon maaf,
sesuai prosedur rumah sakit, kita tidak boleh membebarkan informasi apapun
tentang pasien tanpa persetujuan dari keluarganya.”
“ oh, ya sudah suster,
terimakasih.”
Rasanya, seperti
ada martil besar yang mengenai kepalaku....
“Sebegitu parahkah
penyakit Irwan sampai dia harus dibawa ke luar negeri?” Pikirku.
Kami
bertiga pun meninggalkan rumah sakit dengan perasaan kecewa.
********
Setelah
kejadian itu, Aku, Andika dan Riska jarang sekali bertemu. Kami bertiga sibuk
dengan kuliah masing-masing ditambah lagi Riska memutuskan untuk melanjutkan
sekolahnya di Bandung.
Sedangkan Aku pun masih tetap tak bisa mengenyahkan Irwan dari pikiranku.
Irwan
pindah rumah. Meskipun kata RT setempat keluarga Irwan masih tinggal di Jakarta, Andika tidak
bisa menemukan kediaman Irwan yang baru. Dan itu adalah kabar terakhir yang ku
dapat dari Andika.
**********
6
bulan berlalu, dan aku memutuskan untuk melupakan Irwan. Tapi itu semua
sia-sia. Bayangan Irwan selalu saja melakat di fikiranku. Dan ternyata, tepat
di ulang tahunku yang ke-19, Pak Rahmat datang kerumahku. Dia adalah sopir
pribadi keluarga Irwan. Aku pikir dia datang bersama Irwan. Tapi aku salah, dia
datang sendiri.
“Mbak Melisa, saya
Rahmat. Masih ingat kan?”
“ Iya dong Pak,
masak saya lupa. Bapak sopirnya Irwan kan?”
“ Betul sekali
Mbak, saya kesini ada perlu sebentar sama mbak Melisa.”
“Ada apa Pak? Kok sepertinya penting?, Mari masuk
Pak.”
“ Nggak perlu Mbak,
saya Cuma ada perlu sebentar ini ada surat dari mas Irwan. Sebenarnya surat ini
di buat beberapa bulan yang lalu. Tapi mas Irwan pesen, katanya suruh ngasih
pas Mbak Melisa ulang tahun saja. Begitu Mbak” (sambil memberikan sepukuk surat
dan sebuah kotak yang berwarna senada –biru cerah- )
Aku menerima kotak
itu dengan perasaan senang. Meskipun ada sedikit rasa heran.
“ oh iya Mbak,
sebelumnya saya juga mau mengucapkan selamat ulang tahun sama Mbak,”
“ Terimakasih ya
Pak, trus sekarang Irwannya dimana?”
“Mending Mbak
Melisa baca dulu suratnya, nanti pasti Mbak tau dimana mas Irwan sekarang.”
“Ehmmmm.,,, begitu
ya pak? “
“ Iya Mbak, kalau
begitu saya pamit dulu.”
“Iya pak,
terimakasih banyak yah..”
“Sama-sama, mari
Mbak”
“Hati-hati di
jalan pak.”
Pak Rahmat tidak menyahut. Hanya melampar
senyum ramahnya padaku.
Aku pun lantas
bergegas masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, Aku langsung membuka
surat dari Irwan.
Dear
Melisa,
Sebelumnya aku mau ngucapin selamat ulang
tahun buat kamu. Semoga Tuhan selalu memberikan semua yang terbaik buat kamu.
Langsung saja ya mel, Aku seneng banget
waktu Andika bilang kamu sayang sama Aku sejak kelas satu. Dan kamu juga nolak
Andika demi aku. Dan saat itu Aku sadar, aku nggak mencintai orang yang salah.
Terserah kamu mau percaya apa enggak, aku tuh juga suka sama kamu sejak pertama
kita bertemu. Inget nggak, waktu itu kita perah ngambil buku yang sama di
perpus, tapi bukunya cuma ada satu, dan aku ngerelain buku itu buat kamu. Kalo
nggak salah itu waktu kita kelas satu kan Mel,, sejak saat itu aku mulai suka
memperhatikan kamu dari kejauhan.
Mungkin pas baca surat ini kamu
bertanya-tanya, kenapa aku selalu bersikap cuek sama kamu?
Itu semua aku lakukan karena eku nggak mau
ngasih harapan ke kamu, aku nggak mau kamu jadi sedih kalo seandainya kamu tau
aku punya penyakit berbahaya. Sejak SMP aku udah divonis dokter mengidap
penyakit LEUKIMIA. Jadi, aku bisa hidup sampai sekarang adalah mu’jizat dari
Tuhan.
Mel, kamu udah terima kotak dari aku yang
warna biru itu kan? Didalam kotak itu banyak sekali bukti kalau selama ini aku
sangat mengagumi kamu.
Mel, aku juga sengaja pilih warna biru buat
amplop dan kotak yang aku kasih ke kamu. Karena aku tau itu warna favorit kamu.
Mel, mungkin waktu kamu baca surat ini, aku
udah PERGI jauh untuk selama-lamanya. Meskipun begitu, aku akan tetap
mencintaimu dan kamu akan selalu ada di hati aku. Karena kamu adalah cinta
pertama dan terkhir buat aku.
Aku harap kamu ini menjadi kado terindah
dariku untukmu. Dan kamu nggak menangisi kepergianku.
Yang Slalu Mencintaimu.....
IRWAN HADINATA
*********
Aku tidak tau lagi
apa yang terjadi kemudian, yang jelas ketika aku bangun aku sudah brada di
kamar sebuah rumah sakit dan ayah ibuku telah berada disampingku.
“ Mel, akhirnya
kamu sadar juga. Kamu udah pingsan berjam-jam sayang..”
Ucap ibuku saat
aku mulai membuka mata
“Kamu kenapa
sayang??” Ayahku pun tak dapat menahan rasa penasarannya.
Aku hanya menatap
kedua orang tuaku.
“Ma, Pa, ini
dimana?”
“ Dirumah sakit
sayang, tadi waktu kamu pingsan, kami kuatir sekali, makanya kamu langsung kami
bawa ke rumah sakit” ucap ayahku.
“ Ma, aku kan tadi
pegang kotak biru, sekarang dimana?”
“ Ada kok sayang,
tadi mama bawa kesini”
Kemudian ibuku
mengambil sebuah kotak di atas meja. Aku pun langsung membuka benda itu, betapa
kagetnya aku, ternyata kotak itu berisi sketsa wajahku yang jumlahnya amat
sangat banyak. Dan saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya. Ibuku pun tak
berani menanyakan apa yang tengah terjadi padaku. Ibuku hanya menenangkan dan
memelukku dengan penuh kasih sayang. Rasanya aku ingin berteriak memanggil nama
Irwan sekeras-kerasnya. Tapi aku sadar bahwa semua itu tidak akan mungkin bisa
mengembalikan Irwan.
*********
Lima tahun sudah Irwan
meninggalkan orang-orang yang mengasihinya. Sesungguhnya dilubuk hatiku yang
paling dalam masih tersimpan ruang untuk mencintai Irwan, meskipun tidak
seperti dulu.
Tiga bulan lagi pesta pernikahanku
digelar, Aku memang mencintai calon suamiku, tapi aku tidak bisa membohongi
perasaanku yang sampai detik ini masih mencintai Irwan. Biarlah aku mengubur
kenanganku bersama Irwan sedalam-dalamnya. Meskipun masih terbesit harapan agar
kisahku bersama Irwan ABADI UNTUK SELAMANYA.
*********
No comments:
Post a Comment