gores pena

Monday, January 16, 2012

Luka Itu......


Entah berapa lama dan berapa sering aku duduk termenung sambil memegang satu-satunya kenangan pada saat aku SMA. Ya, album kenangan inilah yang bisa mengobati rasa rinduku pada teman-temanku. Tapi ketika aku berhenti pada satu nama, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperhatikan detail wajahnya. Dia adalah Irwan. Sebenarnya dia tidak terlalu tampan, dia juga bukan anak yang populer di sekolah, dia juga termasuk anak yang pendiam. Tapi semua itulah yang membuat aku simpati padanya. Kekagumanku bermula saat aku dan Irwan sama-sama menginginkan sebuah buku di perpustakaan sekolah. Kebetulan buku tersebut hanya ada satu. Dan Irwan pun merelakan buku itu untukku. Sejak saat itu aku mulai memperhatikan dia. Tapi, sepertinya dia tidak tau dan tidak mau tau akan hal itu. Itu pun bukan satu-satunya alasan mengapa aku tidak bisa  bersama irwan. Dia terlalu pendiam dan mana mungkin dia mau membuang waktu untuk memperhatikan aku???. Karena alasan-alasan itulah aku memutuskan untuk memendam bahkan mengubur perasaanku terhadap Irwan sedalam-dalamnya. Meskipun didalam hati aku tetap berdo’a kepada Tuhan agar kelak aku bisa dekat dengan Irwan walaupun hanya sebatas teman.
*******
Ternyata Tuhan mendengar do’aku. Ketika aku menginjak kelas tiga, aku satu kelas dengan Irwan. Kekagumanku terhadap Irwan bertambah ketika aku tau dia adalah cowok yang pintar menggambar. Pada pertengahan semester satu, sekolahku mengikuti sebuah lomba karya ilmiah di Jogja. Aku berkesempatan untuk mewakili sekolahku bersama Andika. Dia adalah sahabat Irwan. Aku merasa nyaman berada didekat Andika, namun aku tidak tau apakah rasa itu murni  terhadap Andika ataukah karena banyak sekali kemiripan antara sifat Andika dengan Irwan. Di sekolah, aku mempunyai seorang sahabat, dia bernama Riska. Aku dan dia begitu akrab. Dan dia adalah satu-satunya orang yang tau tentang perasaanku pada Irwan, setelah ibuku tentunya. Dan satu hal lagi, Riska itu menaruh simpati pada Andika, aku pun mengamini saat Riska memintaku menjodohkannya dengan Andika. Sedangkan Irwan, dia tetap seperti dulu. Dia sibuk dengan dunianya sendiri dan tak pernah memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Termasuk aku. Meskipun begitu perasaanku terhadap Irwan tidak pernah berubah, malah semakin dalam. Dan aku pun membiarkan semuanya mengalir laksana air yang tenang. Aku tidak mau memaksakan kehendakku terhadap Irwan.
*******
Hari demi hari berlalu, hingga pada suatu hari Andika memintaku untuk menemuinya sepulang sekolah. Aku kira dia ingin membicarakan perihal hubungannya dengan Riska yang semakin dekat. Namun aku salah. Dia justru memintaku untuk menjadi kekasihnya....
“oh tuhan, cobaan apalagi ini “ (pikirku).
Aku hanya diam dan tidak berani memandang wajah Andika. Aku sungguh bingung. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Sampai akhirnya Andika pun berkata “Mel, aku tidak akan memaksamu. Aku sanggup menunggumu. Besok aku tunggu kamu di tempat dan jam yang sama ya...” Kemudian Andika pun pergi berlalu.
*******
Keesokan harinya aku tidak datang ke sekolah. Kepalaku sungguh pusing. Aku pun tidak siap jika hari ini aku harus bertemu dengan Andika. Tapi perkiraanku salah, sepulang sekolah Andika datang ke rumahku bersama Riska. Dan entah dari mana datangnya keberanian itu, sehingga aku sanggup membicarakan apa yang sedang kurasa kepada Andika dan Riska.
“Dika, sebelumnya aku minta maaf karena aku tidak bisa menerimamu.” Ucapku lirih
“Maksud kamu apa Mel?” Riska telihat kaget mendengar ucapanku
“Sebaiknya kamu bertanya pada Andika.”
“Aku kemarin mengutarakan perasaanku kepada Melisa. Maafkan aku Ris, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku telah jatuh cinta terhadap Melisa sejak kami mengikuti lomba di Jogja.” Andika berucap dengan wajah tertunduk
“ Aku tau hal itu Dika, sesungguhnya aku dapat merasakan perasaanmu terhadap Melisa dari cara kamu menatap Melisa. Aku pun tidak keberatan jika kamu bersama Melisa” (sambil menyatukan tangan Melisa dan Andika)
(melepaskan tangan Andika) “ Aku tidak mungkin menerimamu Dika, karena semua hatiku telah aku berikan kepada orang lain”
“Maksud kamu?” Andika terlihat kaget
“Aku sudah lama menyimpan perasaan terhadap sahabatmu.”
“Irwan???” Wajah tampan Andika menunjukkan kebingungan yang sangat.
“ Iya”  Jawabku
Sejenak, kamar Melisa menjadi sunyi. Dan dering hp Andika membuyarkan kesunyian tersebut.
“eh Mel, nyokap sms nih, aku di suruh nganter belanja. Aku pulang dulu ya, Kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan Ris??(sambil menatap Riska)”
“ Iya nggak apa-apa, aku juga masih pengen ngobrol ama Melisa”
“ Kalo gitu aku pamit ya Mel, kapan-kapan aku main kesini, sama Irwan deh....” (sambil tersenyum)
Melisa hanya mengangguk sambil tersenyum. Andika pun berlalu meninggalkan Melisa dan Riska.
*******
Hari demi hari ku jalani. Aku, Riska, dan Andika semakin akrab semenjak kejadian tiga bulan yang lalu. Aku pun tak lagi mengharapkan cinta Irwan. Aku sadar tidak mudah mendapatkan sedikit tempat dihatinya.
Aku memilih berkonsentrasi belajar, karena UAN akan segera dilaksanakan. Sejenak aku menyingkirkan semua rasaku pada Irwan. Entah mengapa aku sangat yakin suatu saat nanti Aku bisa memiliki sesudut ruang dihati Irwan.
********
Setelah satu bulan menanti pengumuman hasil ujian, Aku sangat bahagia, karena aku lulus dengan nilai terbaik di sekolah, tapi seusai ujian, aku sama sekali tidak pernah melihat Irwan. Untuk mengobati rasa penasaranku aku pun bertanya pada Andika.
“Dika, aku kok nggak pernah liat Irwan ya?” Tanyaku pada Andika.
“Dia kan sakit mel, masak kamu nggak tau?” Jawab Andika.
“Sakit apa?”
“Aku juga kurang tau sih Mel, kemarin aku ke rumah Irwan, kata pembantunya sih Irwan masuk rumah sakit.”
“Apa??? Kok kamu nggak ngasih tau aku sih Dik,,,”
“Aku kan baru tau kemarin Mel, aku minta maaf deh nggak langsung ngasih tau kamu. Gini aja, gimana kalo kita besok ke rumah sakit? Kamu ajak Riska sekalian.”
“Iya deh. Trus kita ketemu dimana??”
“Di rumah kamu aja Mel, soalnya tempatnya deket situ.”
“Iya udah terserah kamu aja.”
“Ok. Sampai besok Mel. ”
“Iya Dika. Makasih sebelumnya”
********
Pukul 10 pagi, Andika dan Riska sudah sampai di rumahku. Kami bertiga langsung berangkat menuju sebuah rumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih setengah jam, kami sampai pada tujuan. Hatiku tak karuan, aku merasa aku tak akan bertemu lagi dengan Irwan.
“ suster, Irwan Hadinata itu dirawat di kamar nomor berapa yah???” Tanya Andika di meja receptionist.
“ Mohon maaf, adik-adik ini siapanya bapak Irwan?”
“ Saya sahabatnya,”
“ Sebentar ya, saya cek dulu.’”
“Iya suster.”
Kami bertiga terdiam dengan fikiran masing-masing. Dan ucapan suster itu pun membuyarkan kebekuan kami.
“ Sayang sekali dek,,, mas Irwan Hadinata sebelumnya memang dirawat disini. Tapi kemarin keluarga bapak Irwan telah memindahkan beliau ke rumah sakit yang ada diluar negeri.”
 “Apa???” kami bertiga tersentak
“Kalau boleh tau, Irwan sakit apa suater?”
“Mohon maaf, sesuai prosedur rumah sakit, kita tidak boleh membebarkan informasi apapun tentang pasien tanpa persetujuan dari keluarganya.”
“ oh, ya sudah suster, terimakasih.”
Rasanya, seperti ada martil besar yang mengenai kepalaku....
“Sebegitu parahkah penyakit Irwan sampai dia harus dibawa ke luar negeri?”  Pikirku.
Kami bertiga pun meninggalkan rumah sakit dengan perasaan kecewa.
********
Setelah kejadian itu, Aku, Andika dan Riska jarang sekali bertemu. Kami bertiga sibuk dengan kuliah masing-masing ditambah lagi Riska memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Bandung. Sedangkan Aku pun masih tetap tak bisa mengenyahkan Irwan dari pikiranku.
Irwan pindah rumah. Meskipun kata RT setempat keluarga Irwan masih tinggal di Jakarta, Andika tidak bisa menemukan kediaman Irwan yang baru. Dan itu adalah kabar terakhir yang ku dapat dari Andika.
**********
6 bulan berlalu, dan aku memutuskan untuk melupakan Irwan. Tapi itu semua sia-sia. Bayangan Irwan selalu saja melakat di fikiranku. Dan ternyata, tepat di ulang tahunku yang ke-19, Pak Rahmat datang kerumahku. Dia adalah sopir pribadi keluarga Irwan. Aku pikir dia datang bersama Irwan. Tapi aku salah, dia datang sendiri.
“Mbak Melisa, saya Rahmat. Masih ingat kan?”
“ Iya dong Pak, masak saya lupa. Bapak sopirnya Irwan kan?”
“ Betul sekali Mbak, saya kesini ada perlu sebentar sama mbak Melisa.”
“Ada apa Pak? Kok sepertinya penting?, Mari masuk Pak.”
“ Nggak perlu Mbak, saya Cuma ada perlu sebentar ini ada surat dari mas Irwan. Sebenarnya surat ini di buat beberapa bulan yang lalu. Tapi mas Irwan pesen, katanya suruh ngasih pas Mbak Melisa ulang tahun saja. Begitu Mbak” (sambil memberikan sepukuk surat dan sebuah kotak yang berwarna senada –biru cerah- )
Aku menerima kotak itu dengan perasaan senang. Meskipun ada sedikit rasa heran.
“ oh iya Mbak, sebelumnya saya juga mau mengucapkan selamat ulang tahun sama Mbak,”
“ Terimakasih ya Pak, trus sekarang Irwannya dimana?”
“Mending Mbak Melisa baca dulu suratnya, nanti pasti Mbak tau dimana mas Irwan sekarang.”
“Ehmmmm.,,, begitu ya pak? “
“ Iya Mbak, kalau begitu saya pamit dulu.”
“Iya pak, terimakasih banyak yah..”
“Sama-sama, mari Mbak”
“Hati-hati di jalan pak.”
 Pak Rahmat tidak menyahut. Hanya melampar senyum ramahnya padaku.
Aku pun lantas bergegas masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, Aku langsung membuka surat dari Irwan.


Dear Melisa,
Sebelumnya aku mau ngucapin selamat ulang tahun buat kamu. Semoga Tuhan selalu memberikan semua yang terbaik buat kamu.
Langsung saja ya mel, Aku seneng banget waktu Andika bilang kamu sayang sama Aku sejak kelas satu. Dan kamu juga nolak Andika demi aku. Dan saat itu Aku sadar, aku nggak mencintai orang yang salah. Terserah kamu mau percaya apa enggak, aku tuh juga suka sama kamu sejak pertama kita bertemu. Inget nggak, waktu itu kita perah ngambil buku yang sama di perpus, tapi bukunya cuma ada satu, dan aku ngerelain buku itu buat kamu. Kalo nggak salah itu waktu kita kelas satu kan Mel,, sejak saat itu aku mulai suka memperhatikan kamu dari kejauhan.
Mungkin pas baca surat ini kamu bertanya-tanya, kenapa aku selalu bersikap cuek sama kamu?
Itu semua aku lakukan karena eku nggak mau ngasih harapan ke kamu, aku nggak mau kamu jadi sedih kalo seandainya kamu tau aku punya penyakit berbahaya. Sejak SMP aku udah divonis dokter mengidap penyakit LEUKIMIA. Jadi, aku bisa hidup sampai sekarang adalah mu’jizat dari Tuhan.
Mel, kamu udah terima kotak dari aku yang warna biru itu kan? Didalam kotak itu banyak sekali bukti kalau selama ini aku sangat mengagumi kamu.
Mel, aku juga sengaja pilih warna biru buat amplop dan kotak yang aku kasih ke kamu. Karena aku tau itu warna favorit kamu.
Mel, mungkin waktu kamu baca surat ini, aku udah PERGI jauh untuk selama-lamanya. Meskipun begitu, aku akan tetap mencintaimu dan kamu akan selalu ada di hati aku. Karena kamu adalah cinta pertama dan terkhir buat aku.
Aku harap kamu ini menjadi kado terindah dariku untukmu. Dan kamu nggak menangisi kepergianku.

Yang Slalu Mencintaimu.....

IRWAN HADINATA
*********
Aku tidak tau lagi apa yang terjadi kemudian, yang jelas ketika aku bangun aku sudah brada di kamar sebuah rumah sakit dan ayah ibuku telah berada disampingku.
“ Mel, akhirnya kamu sadar juga. Kamu udah pingsan berjam-jam sayang..”
Ucap ibuku saat aku mulai membuka mata
“Kamu kenapa sayang??” Ayahku pun tak dapat menahan rasa penasarannya.
Aku hanya menatap kedua orang tuaku.
“Ma, Pa, ini dimana?”
“ Dirumah sakit sayang, tadi waktu kamu pingsan, kami kuatir sekali, makanya kamu langsung kami bawa ke rumah sakit” ucap ayahku.
“ Ma, aku kan tadi pegang kotak biru, sekarang dimana?”
“ Ada kok sayang, tadi mama bawa kesini”
Kemudian ibuku mengambil sebuah kotak di atas meja. Aku pun langsung membuka benda itu, betapa kagetnya aku, ternyata kotak itu berisi sketsa wajahku yang jumlahnya amat sangat banyak. Dan saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya. Ibuku pun tak berani menanyakan apa yang tengah terjadi padaku. Ibuku hanya menenangkan dan memelukku dengan penuh kasih sayang. Rasanya aku ingin berteriak memanggil nama Irwan sekeras-kerasnya. Tapi aku sadar bahwa semua itu tidak akan mungkin bisa mengembalikan Irwan.
*********
              Lima tahun sudah Irwan meninggalkan orang-orang yang mengasihinya. Sesungguhnya dilubuk hatiku yang paling dalam masih tersimpan ruang untuk mencintai Irwan, meskipun tidak seperti dulu.
              Tiga bulan lagi pesta pernikahanku digelar, Aku memang mencintai calon suamiku, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku yang sampai detik ini masih mencintai Irwan. Biarlah aku mengubur kenanganku bersama Irwan sedalam-dalamnya. Meskipun masih terbesit harapan agar kisahku bersama Irwan ABADI UNTUK SELAMANYA.
*********

No comments:

Post a Comment