BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Dalam
penelitian kuantitatif, salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh
peneliti ialah membuat desain penelitian karena desain penelitian seperti
petunjuk jalan bagi peneliti yang menuntun dan menentukan arah berlangsungnya
proses penelitian secara benar, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Tanpa desain yang benar dalam penelitian
kuantitatif, seorang peneliti tidak dapat melakukan penelitian dengan baik
karena peneliti tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Peneliti perlu
menghindari sumber potensial kesalahan dalam proses penelitian secara
keseluruhan, agar tercapai pembuatan desain yang benar.
Mengingat
pentingnya desain dalam menyusun sebuah penelitian, maka kami coba merangkumnya
dalam makalah ini untuk memudahkan proses belajar mendesain penelitian dimasa
mendatang.
1.2.
Rumusan
Masalah
a. Kesalahan
apa saja yang biasa timbul dalam mendesain penelitian kuantitatif?
b. Sebutkan
dan jelaskan jenis desain penelitian dalam metode penelitian kuantitatif!
1.3.
Tujuan
a. Mengetahui
kesalahan yang biasa timbul dalam mendesain penelitian
b. Mengetahui
secara rinci jenis desain penelitian dan mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Kesalahan dalam Mendesain Penelitian
Dalam menyusun sebuah penelitian, pasti
ada kendala atau kesalahan yang timbul. Penulis akan menjabarkan beberapa
kesalahan dan cara untuk meminimalisir timbulnya kesalahan tersebut,
diantaranya:
a.
Kesalahan
terjadi saat desain penelitian dibuat : Kesalahan dalam
perencanaan dapat terjadi saat peneliti membuat kesalahan dalam menyusun desain
yan akan digunakan untuk mengumpulkan informasi. Kesalahan ini dapat terjadi
jika peneliti salah dalam merumuskan masalah. Kesalahan dalam merumuskan
masalah akan menghasilkan informasi yang tidak dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah yang sedang diteliti. Cara untuk mengatasi kesalahan ini
ialah mengembangkan proposal yang baik dan benar, secara jelas menentukan
metode tertentu yang akan digunakan dalam penelitian, dan menemukan nilai
tambah pada penelitian yang akan dijalankan.
b.
Kesalahan
terjadi saat pengumpulan data dilaksanakan : Kesalahan dalam
pengumpulan data terjadi pada saat peneliti melakukan kesalahan dalam proses
pengumpulan data dilapangan. Kesalahan ini dapat memperbesar tingkat kesalahan
yang sudah terjadi dikarenakan perencanaan yang tidak matang. Data yang
dikoleksi harus mewakili populasi yang sedang diteliti dan metode pengumpulan
datanya harus dapat menghasilkan data yang akurat. Cara mengatasi kesalahan ini
ialah kehati-hatian dan ketepatan dalam menjalankan desain penelitian yang
sudah dirancang dalam proposal.
c.
Kesalahan
saat analisis dilakukan : Kesalahan dalam melakukan analisis
dapat terjadi pada saat peneliti salah dalam memilih prosedur analisis data.
Cara mengatasi masalah ini ialah buatlah justifikasi prosedur analisis, yang
digunakan untuk melakukan inferensi terhadap data yang ada.
d.
Kesalahan
saat membuat laporan : Kesalahan dalam pelaporan terjadi
jika peneliti membuat kesalahan dalam menginterpretasikan hasil penelitian.
Kesalahan seperti ini terjadi pada saat memberikan makna hubungan dan angka
yang diidentifikasi dari tahap analisis data. Cara mengatasi kesalahan ini
ialah hasil analisis data diperiksa oleh orang yang benar-benar ahli dan
menguasai masalah hasil penelitian tersebut.
2.2.
Jenis Desain Penelitian dalam Metode Penelitian Kuantitatif
Sebelum
membicarakan desain penelitian dalam aliran kuantitatif, di bawah ini diberikan
gambaran umum mengenai desain penelitian yang ada yaitu :
![]() |
Bagan
desain penelitian kuantitatif
Dalam penelitian
yang menggunakan pendekatan kuantitatif, terdapat dua desain utama, yaitu
desain penelitian eksploratori dan desain penelitian konklusif. Dalam desain penelitian
konklusif terdapat dua subdesain, yaitu desain untuk penelitian deskriptif dan penelitian
kausal.
a.
Desain penelitian eksploratori digunakan
untuk penelitian awal yang berfungsi untuk menjelaskan dan mendefinisikan suatu
masalah. Penelitian bersifat awal dan tidak untuk mencari kesimpulan akhir. Hal
yang termasuk dalam kategori ini ialah survei yang dilakukan oleh ahli, studi
kasus, analisis data sekunder, dan penelitian yang menggunakan pendekatan
kualitatif.
b.
Desain penelitian konklusif digunakan
untuk penelitian deskriptif dan penelitian eksperimental. Penelitian deskriptif
berfungsi untuk menggambarkan karakteristik / gejala / fungsi suatu populasi.
Metode yang digunakan biasanya survei dan obsevarsi.
c.
Penelitian deskriptif mempunyai
karakteristik menggunakan hipotesis, desain terstruktur dan tidak fleksibel,
mengutamakan akurasi dan pemahaman masalah sebelumnya.
d.
Penelitian kausal digunakan untuk
mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antara variabel, yaitu variabel yang
berfungsi sebagai penyebab (variabel bebas) dan variabel yang berfungsi sebagai
variabel akibat (variabel tergantung).
Dalam penelitian
kuantitatif, yang bersifat konklusif ada dua macam tipe desain, yaitu desain ex post facto dan desain eksperimental.
Faktor-faktor
yang membedakan kedua desain ini ialah pada desain ex post facto tidak terjadi manipulasi variabel bebas, sedangkan
pada desain eksperimental terdapat adanya manipulasi variabel bebas. Tujuan
utama pengguna desain ex post facto
ialah bersifat eksplorasi dan deskriptif, sedangkan desain eksperimental
bersifat eksplanatori (sebab-akibat). Jika dilihat dari tingkat pemahaman
permasalahan yang diteliti, desain ex
post facto menghasilkan tingkat pemahaman persoalan yang dikaji pada tataran permukaan, sedangkan
desain eksperimental dapat menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih mendalam
(inferensi). Kedua desain utama tersebut mempunyai subdesain yang lebih khusus.
Studi lapangan dan survei termasuk dalam kategori pertama. Percobaan di
lapangan (field experiment) dan
percobaan di laboratorium (laboratory
experiment) termasuk dalam ketegori kedua. Dibawah ini akan dijelaskan
secara rinci mengenai subdesain ex post
facto, subdesain eksperimental, desain spesifik ex post facto dan eksperimental, dan desain eksperimental tingkat
lanjut.
1.
Subdesain Ex Post Facto
a.
Studi Lapangan
Studi lapangan merupakan desain
penelitian yang mengombinasikan antara pencarian literatur (literature study), survei berdasarkan
pengalaman dan studi kasus saat peneliti berusaha mengidentifikasi variabel
penting dan hubungan antarvariabel tersebut dalam suatu situasi permasalahan
tertentu. Studi lapangan umumnya digunakan sebagai sarana penelitian lebih
lanjut dan mendalam.
b.
Survei
Desain survei tergantung pada
penggunaan jenis kuesioner yang akan digunakan dalam mengambil data. Survei
memerlukan populasi yang besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan
kondisi nyata. Semakin sampelnya besar, survei semakin memberikan hasil yang
lebih akurat. Melalui survei seorang peneliti dapat mengungkap masalah yang
banyak, meski hanya sebatas dipermukaan. Meskipun demikian, survei bermanfaat
jika peneliti menginginkan informasi yang banyak dan beraneka ragam. Metode
survei sangat populer karena banyak digunakan dalam penelitian bisnis. Keunggulan survei yang lain ialah mudah
melaksanakan dan dapat dilakukan secara cepat.
2.
Subdesain Eksperimental
a.
Eksperimen Lapangan
Desain eksperimen lapangan
merupakan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan latar yang realistis,
penelitian melakukan campur tangan dan melakukan manipulasi terhadap variabel
bebas dengan tujuan untuk melihat efeknya pada variabel tergantung.
b.
Eksperimen Laboratorium
Desain eksperimen laboratorium
menggunakan latar tiruan dalam melakukan penelitiannya. Melalui desain ini,
peneliti melakukan campur tangan dan maniupulasi variabel bebas, serta
memungkinkan peneliti untuk melakukan kontrol terhadap aspek kesalahan utama.
3.
Desain Spesifik Ex Post Facto dan Eksperimental
Sebelum membicarakan desain
spesifik ex post facto dan eksperimental, sistem notasi yang digunakan perlu
diketahui terlebih dahulu. Sistem notasi tersebut adalah sebagai berikut :
X
: Digunakan untuk mewakili pemaparan (exposure)
suatu kelompok yang diuji terhadap suatu perlakuan eksperimental pada variabel
bebas, kemudian efek pada variabel tergantungnya akan diukur.
O
: Menunjukkan adanya suatu pengukuran atau observasi terhadap variabel
tergantung yang sedang diteliti pada individu, kelompok atau objek tertentu.
R
: Menunjukkan bahwa individu atau kelompok telah dipilih dan ditentukan secara random untuk tujuan studi.
a.
Ex
Post Facto
Sebagaimana disebut sebelumnya
bahwa desain ex post facto tidak ada
manipulasi perlakuan terhadap variabel bebasnya, maka sistem notasinya, baik
studi lapangan atau survei hanya ditulis dengan O atau O lebih dari satu.
Contoh 1 : Penelitian dilakukan
dengan menggunakan dua populasi, yaitu perusahaan A dan perusahaan B, maka
notasinya :
O1
O2
Dimana O1 merupakan
kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan A dan O2 merupakan
kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan B.
Contoh 2 : Secara random kita meneliti 200 perusahaan dari
populasi 1000 perusahaan mengenai sistem penggajiannya. Survei dilakukan dengan
cara mengirim kuesioner pada 200 manajer, maka konfigurasi desainnya akan
seperti dibawah ini :
(R) O1
Dimana O1 mewakili
survei di 200 perusahaan dengan memberikan kuesioner kepada 200 manajer yang
dipilih secara random (R),
Apabila sampel yang sama kita
teliti secara berulang, misalnya selama tiga kali dalam tiga bulan
berturut-turut, maka notasinya adalah :
R) O3
Dimana O1 merupakan
observasi yang pertama, O2 merupakan observasi yang kedua, dan O1
merupakan observasi yang ketiga.
b.
Desain-desain Eksperimental
Desain eksperimental dibagi menjadi
dua, yaitu : pre-eksperimental (quasi-experimental)
dan desain eksperimental sebenarnya (true-experimental).
Perbedaan kedua tipe desain ini terletak pada konsep kontrol. Pada
quasi-eksperimental tidak terdapat kelompok pengontrol, sedangkan pada kelompok
eksperimental sebenarnya terdapat satu kelompok yang diteliti dan satu kelompok
lain yang berfungsi sebagai pengontrol.
1.
One
Shot Case Study
Desain eksperimental yang paling
sederhana disebut One Shot Case Study.
Desain ini digunakan untuk meneliti pada satu kelompok dengan diberi satu kali
perlakuan dan pengukurannya dilakukan satu kali. Desainnya adalah sebagai
berikut :
X O
Contoh : Satu kelompok pegawai
diberi pelatihan berbicara bahasa Inggris, kemudian dilakukan tes untuk menguji
kemampuan berbahasa Inggris karyawan tersebut.
2.
One
Group Pre-test – Post test Design
Desain kedua disebut One Group Pre-test – Post test Design yang merupakan perkembangan dari
desain diatas. Pengembangannya ialah dengan cara melakukan satu kali pengukuran
di depan (pre-test), sebelum adanya
perlakuan (treatment), setelah itu
dilakukan pengukuran lagi (post-test).
Desainnya adalah sebagai berikut:
O1 XO2
Pada desain ini, peneliti melakukan
pengukuran awal pada suatu objek yang diteliti, kemudian peneliti memberikan
perlakuan tertentu. Setelah itu, pengukuran dilakukan lagi untuk kedua kalinya.
Contoh : Satu kelompok pegawai
dites kemampuan berbahasa Inggris mereka dan diberikan pelatihan bahasa
Inggris. Setelah selesai pelatihan, dilakukan tes untuk menguji kemampuan
berbahasa Inggris karyawan tersebut lagi.
Desain tersebut dapat dikembangkan
dalam bentuk lainnya yaitu, desain time
series. Jika pengukuran dilakukan secara berulang dalam kurun waktu
tertentu, maka desainnya menjadi seperti bawah ini :
O1 O2 O3
XO4 O5 O6
Pada desain time series, peneliti melakukan pengukuran di depan selama 3 kali
berturut-turut, kemudian dia memberikan perlakuan pada objek yang di teliti.
Selanjutnya, peneliti melakukan pengukuran selama 3 kali lagi setelah perlakuan dilakukan.
3.
Static
Group Comparison
Desain ketiga adalah Static Group Comparison yang merupakan
modifikasi dari desain 2. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih sebagai objek penelitian. Kelompok pertama
mendapatkan perlakuan, sedangkan kelompok kedua tidak mendapatkan perlakuan.
Kelompok kedua ini berfungsi sebagai kelompok pembanding / pengontrol. Desainnya
adalah sebagai berikut:
XO1
O2
Contoh : Terdapat dua kelompok
pegawai yang akan diteliti. Kelompok pertama diberi pelakuan, misalnya
pelatihan administrasi dan di lakukan pengujian akan kemampuan
administrasi mereka. Namun, kelompok
kedua tanpa diberi pelakuan dan langsung diuji kemampuan adminitrasi mereka.
4.
Post-test
Only Control Group Design
Desain ini merupakan desain yang
paling sederhana dari desain eksperimental sebenarnya (true experimental design), karena responden benar-benar dipilih
secara random dan diberi perlakuan,
serta ada kelompok pengontrolnya. Desain ini sudah memenuhi kriteria eksperimen
sebenarnya, yaitu dengan adanya manipulasi variabel, pemilihan kelompok yang
teiliti secara random, dan seleksi
perlakuan. Desainnya adalah sebagai berikut :
( R ) XO1
( R ) O2
Contoh : Terdapat dua kelompok
pegawai yang dipilih secara random.
Kelompok pertama diberi perlakuan, misalnya diberi intruksi tertulis dan lisan,
sedangkan kelompok kedua tidak. Kelompok pertama diberi perlakuan oleh
peneliti, kemudian dilakuakan pengukuran. Kelompok kedua yang digunakan
sebagai kelompok pengontrol tidak diberi
perlakuan, tetapi hanya dilakukan
pengukuran saja. Bagaimana hasil pemahaman kedua kelompok tersebut terhadap
kedua jenis intruksi yang digunakan sebagai perlakuan tersebut ?
5.
Pre-test
– Post-test Control Group Design
Desain ini merupakan pengembangan
desain Post-test Only Control Group
Design. Perbedaanya teletak pada baik kelompok pertama dan kelompok pengontrol dilakukan
pengukuran di depan (pre-test).
Desainnya adalah sebagai berikut:
( R ) O1 XO2
( R ) O3 O4
Contoh : Terdapat dua kelompok
pegawai yang dipilih secara random.
Kelompok pertama diberi perlakuan, misalnya diberi intruksi tertulis dan lisan,
sedangkan kelompok kedua tidak. Kelompok pertama diberikan tes terlebih dahulu, kemudian diberikan
perlakuan oleh peneliti dan dilakukan
pengetesan kembali. Kelompok kedua yang digunakan sebagai kelompok pengontrol
tidak diberi perlakuan, tetapi hanya dilakukan pengukuran saja, yaitu sebanyak
dua kali pengujian. Bagaimana hasil pemahaman kedua kelompok tersebut terhadap
kedua jenis intruksi yang digunakan
sebagai perlakuan tersebut?
6.
Soloman
Four Group Design
Desain ini merupakan kombinasi Post Test Only Control Group Design dan Pre-test – Post-test Control Group Design yang merupakan model desain ideal untuk
melakukan penelitian eksperimen terkontrol. Peneliti dapat melakukan
sekecil mungkin sumber kesalahan karena adanya empat kelompok yang berbeda
dengan enam format pengukuran. Desainnya adalah sebagai berikut :
( R ) O1 XO2
( R ) O3 O4
( R ) XO5
( R ) O6
Contoh : Peneliti memilih empat
kelompok pegawai secara random.
Kelompok pertama yang merupakan kelompok inti diberi perlakuan dan dua kali
pengukuran, yaitu di depan (pre-test) dan
sesudah perlakuan (post-test). Kelompok
kedua sebagai kelompok pengontrol tidak diberi perlakuan, tetapi dilakukan
pengukuran seperti di atas, yaitu pengukuran di depan (pre-test) dan pengukuran sesudah perlakuan (post-test). Kelompok ketiga diberi perlakuan, hanya dilakukan satu
kali pengukuran sesudah dilakukan perlakuan (post-test).
Kelompok keempat sebagai kelompok pengontrol, kelompok ketiga hanya diukur
satu kali saja.
4.
Desain Eksperimental Tingkat Lanjut
a. Desain
Random Sempurna (Completely Randomised
Design)
Desain ini digunakan untuk mengukur
pengaruh suatu variabel bebas yang
dimanipulasi terhadap variabel tergantung. Pemilihan kelompok secara random dilakukan untuk mendapatkan
kelompok yang ekuivalen.
Contoh Kasus:
Pihak direksi suatu perusahaan
ingin mengetahui pengaruh tiga jenis yang berbeda dalam memberikan instruksi
yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan. Dalam tujuan penelitian ini dipilih
secara random tiga kelompok,
masing-masing beranggotakan 25 orang. Instruksi untuk kelompok pertama
diberikan secara lisan, untuk kelompok kedua secara tertulis, dan untuk
kelompok ketiga instruksinya tidak spesifik. Ketiga kelompok diberi waktu
sekitar 15 menit untuk memikirkan situasinya. Selanjutnya, ketiganya diberi tes
objektif untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka mengenai pekerjaan yang akan
dilakukan.
Formulasi masalah kasus ini ialah :
Apakah manipulasi variabel bebas mempengaruhi pemahaman para pegawai bawahan
dalam melaksanakan pekerjaan mereka? Tujuan studi ini, yaitu menentukan jenis
instruksi yang dapat menciptakan pemahaman yang lebih baik terhadap pekerjaan
yang diperintahkan oleh atasan. Contoh desain penelitiannya sebagai berikut :
|
Instruksi
|
Kelompok Eksperimental
|
Kelompok Pengontrol
|
|
|
A1. (Lisan)
|
A2. (Tertulis)
|
A3. (Tidak Spesifik)
|
|
|
|
X1.1
|
X1.2
|
X1.3
|
|
|
|||
|
|
X2.1
|
X2.2
|
X2.3
|
|
|
|||
|
|
X3.1
|
X3.2
|
X3.3
|
|
|
|||
|
|
|||
|
|
X25.1
|
X25.2
|
X25.3
|
|
Perlakuan
|
X.1
|
X.2
|
X.3
|
b. Desain
Blok Random (Randomised Block Design)
Desain ini merupakan penyempurnaaan
desain random sempurna diatas. Pada
desain sebelumnya, perbedaan yang terdapat pada masing-masing individu tidak
diperhatikan, sehingga menghasilkan kelompok yang mempunyai anggota yang
berbeda karakteristiknya. Perlu memilih anggota kelompok (responden) yang
berasal dari populasi yang mempunyai karakteristik sama agar desain yang kita
buat dapat menghasilkan keluaran yang baik. Oleh karena itu, peneliti harus
dapat mengidentifikasi beberapa sumber utama perbedaan yang dimaksud secara
dini. Contoh desainnya sebagai berikut:
|
Instruksi
|
Kelompok Eksperimental
|
Kelompok Pengontrol
|
|||
|
A1. (Lisan)
|
A2. (Tertulis)
|
A3. (Tidak Spesifik)
|
|||
|
Blok
|
|||||
|
B1
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
X1
|
|
|
B2
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
X2
|
|
|
B3
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
X3
|
|
|
B4
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
X4
|
|
|
B5
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
5 (pekerja)
|
X5
|
|
|
Rata-Rata Perlakuan
|
X.1
|
X.2
|
X.3
|
||
Desain di atas dapat diterangkan sebagai
berikut : Pada saat studi dilakukan dengan menggunakan desain sebelumnya, para
anggota dari tiga kelompok berasal dari berbagai latar belakang anggota yang
berbeda dalam sebuah perusahaan. Perbedaan latar belakang anggota merupakan
suatu gangguan atau yang disebut sebagai variabel pengganggu. Oleh karena itu,
perlu dilakukan penyamaan para anggota dari masing-masing kelompok. Caranya
ialah dengan menciptakan blok yang berfungsi untuk mendapatkan anggota kelompok
yang sama. Dalam kasus ini, blok ditentukan berdasarkan pada departemen
(bagian) dari para anggota kelompok berasal. Misalnya, blok 1 adalan bagian
keuangan, blok 2 adalah pemasaran, blok 3 adalah bagian teknik, blok 4 adalah
bagian operasional, blok 5 adalah bagian SDM.
Selanjutnya pekerja yang berasal dari
bagian yang sama dibagi menjadi lima, berdasarkan departemen masing-masing.
Selanjutnya, setiap kelompok mendapatkan perlakuan yang sama, kelompok pertama
mendapatkan intruksi lisan, kelompok kedua mendapatkan intruksi tertulis, dan
kelompok ketiga mendapatkan intruksi tidak spesifik. Peneliti dapat melihat
dampak yang disebabkan oleh sistem blok per departemen dan interaksi dari
instruksi atas ketiga kelompok tersebut, dengan menggunakan desain ini.
c. Desain
Latin Square (The Latin Square Design)
Desain ini digunakan untuk
mengontrol dua variabel pengganggu sekaligus. Berkaitan dengan kasus diatas,
masih terdapat satu variabel pengganggu lainnya, yaitu “kemampuan para
pekerja”. Variabel kemampuan para pekerja, kita bagi menjadi tiga tingkatan,
yaitu kemampuan tinggi, kemampuan menengah, dan kemampuan rendah. Ketiga
tingkatan variabel kemampuan tersebut kita tempatkan pada baris dan kolom model
Latin Square. Desain ini terdiri dari
tiga baris dan tiga kolom dan secara random
diambil 3 pegawai dari masing-masing departemen. Desainnya adalah seperti
dibawah ini:
Kemampuan
Para Pekerja
|
Blok
|
C1
|
C2
|
C3
|
Rata-rata
|
|
B1
|
(a1)x1
|
(a2)x1
|
(a3)x1
|
X1…
|
|
B2
|
(a2)x2
|
(a3)x2
|
(a1)x2
|
X2...
|
|
B3
|
(a3)x3
|
(a1)x3
|
(a2)x3
|
X3…
|
d. Desain
Faktorial
Desain faktorial digunakan untuk mengevaluasi
dampak kombinasi dari dua atau lebih perlakuan terhadap variabel tergantung.
Pada kasus dibawah ini, analisis faktorial diaplikasikan dengan menggunakan
desain random sempurna dengan format
3 baris dan 3 kolom.
Kasus penelitiaanya : Peneliti ingin
melihat dua variabel bebas, yaitu tingkat kontras dan panjang baris sebuah
iklan. Tingkat kontras dimanipulasi menjadi rendah, medium, dan tinggi,
sedangkan panjang baris dimanipulasi menjadi 5 inci, 7 inci, dan 12 inci.
Desainnya adalah sebagai berikut :
Tingkat Kontras
|
Panjang
|
B1.
|
B2.
|
B3.
|
Rata-rata
|
|
Baris
|
Rendah
|
Medium
|
Tinggi
|
Perlakuan
|
|
A1. 5 inci
|
X1
|
|
x.1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
A2. 7 inci
|
|
X2
|
|
x.2
|
|
|
|
|
|
|
|
A3. 12 inci
|
|
|
X3
|
x.3
|
|
Rata-rata
|
x.1.
|
x.2.
|
x.3.
|
|
|
Perlakuan
|
|
Pada tabel desain diatas, X1
mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang
baris 5 inci dan tingkat kontras warna rendah, X2 mempunyai arti responden yang
mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 7 inci dan tingkat
kontras warna medium, dan X3 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan
membaca iklan dengan panjang baris 12 inci dan tingkat kontras warna tinggi.
Dari format diatas, kita akan mendapatkan 9 kombinasi yang berbeda.
BAB III
KESIMPULAN
3.1.
Kesimpulan
Desain
penelitian sangat penting dipelajari karena desain penelitian seperti petunjuk
jalan bagi peneliti yang menuntun dan menentukan arah berlangsungnya proses
penelitian secara benar, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa
desain yang benar dalam penelitian kuantitatif,
seorang peneliti tidak dapat melakukan penelitian dengan baik karena peneliti
tidak mempunyai pedoman arah yang jelas.
Dalam penelitian
yang menggunakan pendekatan kuantitatif, terdapat dua desain utama, yaitu desain
penelitian eksploratori dan desain penelitian konklusif. Dalam desain penelitian
konklusif terdapat dua subdesain, yaitu desain untuk penelitian deskriptif dan penelitian
kausal.
DAFTAR PUSTAKA
Mikkelsen,
Britha. (2011). Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya Pemberdayaan.
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Sarwono,
Jonathan. (2013). Strategi Melakukan Riset Kuantitatif, Kualitatuf, dan
Gabungan. Yogyakarta: Andi.

No comments:
Post a Comment