BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehidupan sehari-hari kita sebenarnya adalah
kehidupan yang selalu bergumul dengan keputusan. Keputusan merupakan kesimpulan
terbaik yang diperoleh setelah mengevaluasi berbagai alternatif. Di dalam arti
tersebut, terkandung unsur situasi dasar, peluang munculnya situasi dasar, dan
aktifitas pencapaian keputusan.
Kajian tentang keputusan juga banyak berbasis metode. Basis
kajian tersebut, dipandang lebih menarik daripada domain pengambilan keputusan
itu sendiri. Berdasarkan kajian metode, keputusan terpecah menjadi empat,
yaitu, metode keputusan rasional, metode keputusan tawar menawar, metode
keputusan agregatif, dan metode keputusan keranjang sampah. Sehubungan dengan
pendekatan metode berbagai aliran pun dapat sesuai untuk mengkaji keputusan.
Aliran-aliran yang dimaksudkan adalah birokratik, manajemen saintifik, hubungan
kemanusiaan, rasionalitas ekonomi, kepuasan dan analisis sistem.
Dengan demikian pengetahuan alternatif model, metode,
aliran digunakan untuk penentuan pegangan sendiri. Seperti berkenaan dengan ini
saya sendiri lebih menyukai cukup tiga aktifitas saja untuk sampai pada
keputusan,yaitu: kehadiran tujuan, aktifitas pencarian informasi atau
alternatif, dan aktifitas evaluasi alternatif. Banyak sedikitnya informasi yang
dilakukan mempengaruhi kecepatan dan kerumitan pengambilan keputusan. Untuk
membeli sebuah ballpoint tidak sama kecepatan dan kerumitan pengambilan
keputusannya dengan membeli pesawat terbang pribadi
Untuk memahami lebih jauh lagi mengenai pengambilan
keputusanm itu,bagaiamana model-model pengambilan keputusan, maka akan
dijelaskan lebih jauh dalam makalah ini.
1.2 Rumusan masalah
a.
Apakah yang dimaksud dengan model
pengambilan keputusan?
b.
Apa saja yang terdapat di dalam
klasifikasi model pengambilan keputusan?
c.
Sebutkan model-model perilaku pengambilan keputusan!
1.3 Tujuan
a.
Mengetahui
pengertian model pengambilan keputusan
b. Mengetahui klasifikasi
model pengambilan keputusan
c.
Mengetahui model-model perilaku pengambilan keputusan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Model Pengambilan Keputusan
Model adalah percontohan yang mengandung unsure yang
bersifat penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan
itu sendiri merupakan suatu proses berurutan yang memerlukan penggunaan
model secara cepat dan benar.
Pentingnya
model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada
relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan diselesaikan itu.
2. Untuk
memperjelas (secara eksplisit) mengenai hubungan signifikan diantara
unsur-unsur itu.
3. Untuk
merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antar variabel.
Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika.
4. Untuk
memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.
Model
merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan situasi atau system yang
kompleks. Jadi dengan model, situasi atau sistem yang kompleks itu dapat
disederhanakan tanpa menghilangkan hal-hal yang esensial dengan tujuan
memudahkan pemahaman. Pembuatan dan penggunaan model dapat memberikan kerangka
pengelolaan dalam pengambilan keputusan.
Olaf Helmer menyatakan bahwa: karakteristik
dari konstruksi. Model adalah abstraksi, elemen-elemen tertentu dari situasi
yang mungkin dapat membantu seseorang menganalisis keputusan dan memahaminya
dengan lebih baik. Untuk mengadakan abstraksi, maka pembuatan model sering kali
dapat meliputi perubahan konseptual. Setiap unsur dari situasi nyata merupakan
tiruan dengan menggunakan sasaran matematika atau sasaran fisik.
Pembuatan dan penggunaan model menurut Kast,
memberikan kerangka pengelolaan. Model merupakan alat penyederhanaan dan
penganalisisan situasi atau system yang kompleks. Jadi dengan menggunakan model
situasi yang kompleks disederhanakan tanpa penghilangan hal-hal yang esensial
dengan tujuan untuk memudahkan pemahaman.
Berdasarkan
pendekatan ilmu manajemen untuk memecahkan masalah digunakan model matematika
dalam menyajikan system menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dipahaminya.
Pada umumnya model itu memberikan sarana abstrak untuk membantu komunikasi.
Bahasa itu sendiri merupakan proses abstraksi, sedangkan matematika merupakan
bahasa simbolik khusus.
Model pengambilan keputusan
diantaranya:
1.
Rasional, model
perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa orang-orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan nilai, yang
secara mendasar konsisten. Pengambialan keputusan yang rasional merukan proses
yang komplek. Tahapan rasional decision making proses:
a.
Mengenal permasalahan.
b.
Definisikan tujuan.
c.
Kumpulkan data yang relevan.
d.
Identifikasi alternative yang memungkinkan (feasible).
e.
Seleksi kriteria untuk pertimbangan alternative terbaik.
f.
Modelkan hubungan antara kriteria, data, dan alternative.
g.
Prediksi hasil dari semua alternative.
h.
Pilih alternative terbaik.
2.
Organisasional, model-model
pengambilan keputusan yang memperhitungkan karakteristik politik dan structural
dari organisasi.
3.
Birokrasi, apapun yang
dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas dan proses bisnis yang terasah
oleh penggunaan aktif selama bertahun-tahun.
4.
Keputusan klasik (classical dision),
berpandangan bahwa manager bertindak dalam kepastian. Merupakan model yang
sangat rasional untuk pembuatan keputusan manajerial.
5.
Keputusan administrasi, menurut
Herbert Simon, manager dalam pengambilan keputusan menghadapi 3 kondisi:
a.
Informasi tidak sempurna, dan tidak lengkap.
b.
Rasionalitas yang terbatas (bounded rasionality).
c.
Cepat puas (satisfice).
3 konsep
untuk membantu manajer menempatkan pembuatan keputusan dalam perspektif, yaitu:
a.
Rasionalitas terbatas dan memadai
(bounded rationality and satisficing)
Menekankan bahwa pembuatan keputusan
harus menghadapi kenyataan tidak memadainya informasi mengenai sifat masalah
dan menyelesaikan yang mungkin, kekurangan waktu dan uang untuk mengumpulkan
informasi yang lebih lengkap, ketidakmampuan untuk mengingat sejumlah dasar
informasi, dan batas-batas kecerdasan mereka sendiri. Yang perlu dipelajari
oleh pembuatan keputusan efektif adalah menerima yang memadai dengan gambaran
sasaran organisasi jelas terbayang dalam benak.
b. Heuristic
Orang yang tergantung pada prinsip
heuristic / pedoman umum, untuk menyederhanakan pembuatan keputuasan
c.
Memutuskan siapa yang membuat
keputusan (bisa)
Model rasional tidak memberikan
pedoman mengenai siapa yang harus membuat keputusan, “siapa yang akan
memutuskan?” merupakan keputusan pertama yang harus dibuat manajer.
Keputusan ini bias sangat rumit.
Model pengambilan
keputusan bisa dilakukan secara individual, kelompok, tim, panitiaan, dewan,
komisi, atau cara reverendum mengajukan usul tertulis. Cara pengambilan
keputusan denga cara mengolah data dan penilaian, baik kualitatif dan
kuantitatif merupaka teknik pengambilan keputusan. Teknik pengambilan keputusan
diperlukan suatu kemampuan.
2.2 Klasifikasi
model pengambilan keputusan:
Mengingat begitu banyaknya cara untuk mengadakan
klasifikasi model, dibawah ini disampaikan beberapa klasifikasi saja.
1.
Tujuannya : model
latihan, model penelitian, model keputusan, model perencanaan, dan lain
sebagainya. Pengertian tujuan disini adalah dalam arti purpose.
2.
Bidang
penerapannya (field of application) : model tentang transportasi, model
tentang persediaan barang, model tentang pendidikan, model tentang kesehatan,
dan sebagainya.
3.
Tingkatannya
(level) : model tingkat manajemen kantor, tingkat kebijakan
nasional, kebijakan regional, kebijakan local, dan sebagainya.
4.
Ciri
waktunya (time character) : model statis dan model dinamis.
5.
Bentuknya
(form) : model dua sisi, satu sisi, tiga dimensi, model konflik, model non
konflik, dan sebagainya.
6.
Pengembangan
analitik (analytic development) : tingkat dimana matematika perlu
digunakan; lain-lain.
7.
Kompleksitas
(complexity) : model sangat terinci, model sederhana, model
global, model keseluruhan, dan lain-lain.
8.
Formalisasi
(formalization) : model mengenai tingkat dimana interaksi itu telah
direncanakan dan hasilnya sudah dapat diramalkan, namun secara formal perlu
dibicarakan juga.
Klasifikasi
model pengambilan keputusan menurut Quade:
1. Model kuantitatif
Serangkaian asumsi
yang tepat yang dinyatakan dalam serangkaian hubungan matematis yang pasti. Ini
dapat berupa persamaan, atau analisis lainnya, atau merupakan instruksi bagi
computer, yang berupa program-program untuk computer. Adapun ciri-ciri pokok
model ini ditetapkan secara lengkap melalui asumsi-asumsi, dan kesimpulan
berupa konsekuensi logis dari asumsi-asumsi tanpa menggunakan pertimbangan atau
intuisi mengenai proses dunia nyata (praktik) atau permasalahan yang dibuat
model untuk pemecahannya.
2.
Model
kualitatif
Didasarkan atas
asumsi-asumsi yang ketepatannya agak kurang jika dibandingkan dengan model
kuantitatif dan ciri-cirinya digambarkan melalui kombinasi dari deduksi-deduksi
asumsi-asumsi tersebut dan dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif
mengenai proses atau masalah yang pemecahannya dibuatkan model.
Klasifikasi
model pengambilan keputusan menurut Gullet dan Hicks:
1.
Model
Probabilitas
Umumnya model-model keputusannya merupakan konsep
probabilitas dan konsep nilai harapan member hasil tertentu (the concept of
probability and expected value). Adapun yang dimaksud dengan probabilitas
adalah kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu peristiwa tertentu (the chance
of particular event occuring).
Demikian
juga halnya dengan probabilitas statistic atau proporsi statistic dikembangkan
melalui pengamatan langsung terhadap populasi atau melalui sampel dari populasi
tersebut.
Banyak
kemungkinan dalam rangka pengambilan keputusan dalam organisasi, yang semuanya
bertujuan mendapatkan sesuatu yang diharapkan masa mendatang, misalnya agar
nantinya dapat menanggulangi terhadap kesulitan-kesulitan dalam masa
resesi, untuk dapat menaikkan tingkatan pendapatan masyarakat, lain
sebagainya.
2.
Konsep
tentang nilai-nilai harapan (the Concept of Expectedvalue)
Dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yang akan
diambilnya nanti menyangkut kemungkinan-kemungkinan yang telah diperhitungkan
bagi situasi dan kondisi yang akan datang. Adapun nilai yang diharapkan dari
setiap peristiwa yang terjadi merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa itu
dikalikan dengan nilai kondisional. Sedangkan nilai kondisionalnya adalah nilai
dimana terjadinya peristiwa yang diharapkan masih diragukan.
3.
Model
Matriks
Selain model probabilitas dan nilai
harapan (probability and excpected value), ada juga model lainnya. Model
lainnya adalah model matriks (the payoff matrix model). Model matriks merupakan
model khusus yang menyajikan kombinasi antara strategi yang digunakan dan hasil
yang diharapkan.
Klasifikasi
model pengambilan keputusan menurut Welch and Comer:
1.
Model Pohon Keputusan (Decision Tree
Model)
Suatu diagram yang cukup sederhana yang menunjukkan
suatu proses untuk merinci masalah-masalah yang dihadapinya kedalam
komponen-komponen, kemudian dibuatkannya alternatif-alternatif pemecahan
beserta konsekuensi masing-masing.
Pohon keputusan dipergunakan untuk memecahkan
masalah-masalah yang timbul dalam proyek yang sedang ditangani. Welch and Comer
memberikan definisi sebagai berikut : “The decision tree is a simple diagram showing
the possible consequences of alternative decision. The tree includes the
decision nodes chance modes, pay offs for each combination, and the
probabilitie of each event.”
Menurut Welch, ada 4 komponen dari pohon
keputusan yakni :
1.
Simpul Keputusan,
2.
Simpul Kesempatan,
3.
Hasil dari
kombinasi, dan
4.
Kemungkinan-kemungkinan akibat dari
setiap peristiwa yang terjadi.
Diagram
pohon ini salah satu langkah yang diperlukan dalam pengambilan rancangan bangun
proyek. Adapun langkah-langkah perlu dilakukan secara berturut-turut sebagai
berikut:
a.
Mengadakan indentifikasi jaringan
hubungan komponen-komponen yang ada secara bersama-sama membentuk masalah
tertentu yang nantinya harus dipecahkan melalui diagram keputusan.
b.
Masalah utama iitu kemudian dirinci
kedalam masalah yang lebih kecil.
c.
Masalah yang sudah mulai terinci itu
kemudian dirinci lagi kedalam masalah yang lebih kecil.
2.
Model kurva Indiferen (Kurva Tak
Acuh)
Kurva
berbentuk garis dimana titik yang berada pada garis kurva tersebut mempunyai
tingkat kepuasan atau kemanfaatan yang sama.
Kurva Indiferen mempunyai 4 ciri
penting , yaitu :
a.
Kurva indiferen membentuk lereng
yang negatif. Kemiringan yang ngatif menunjukkan fakta atau asumsi bahwa satu
dapat diganti dengan komoditas lain sehingga konsumen mempunyai tingkat
kepuasan yang tetap sama.
b.
Jika ada dua kurva indiferen dalam
suatu keadaan atau lingkupan maka keduanya tidak akan saling berpootngan
c.
Hasil yang diperoleh dari asumsi
ialah bahwa kurva indiferen ditarik melalui setiap titik sehingga membentuk
gari kurva.
d.
Kurva indiferen dibutuhkan bagi
pengorbanaan tertentu untuk mendapatkan kepuasan yang optimal.
3.
Model Simulasi Komputer
Pengambilan
keputusan siperlukan rancangan bangun (design) yang biasanya menggunakan
komputer yang mampu menirukan apa-apa yang dilakukan organisasi.
Klasifikasi
model pengambilan keputusan menurut Robert D.Spech:
1.
Model Matematika
Menggunakan teknik seperti misalnya linear
programming, teori jaringan kerja, dsb. komputer dapat digunakan begitu pula
dengan kalkulator yang dapat digunakan sebagai alat perhitungan saja bukan
sebagai simulator.
2.
Model Simulasi Komputer
Merupakan tiruan dari kasus yang sesungguhnya. Ada
yang dibuat dengan peralatan dan ukuran yang sama persis dengan yang
sesungguhnya.
3.
Model Permainan Operasional
Dalam model ini manusia dijadikan objek yang harus
mengambil keputusan. Informasi diperoleh dari komputer atau video game yang
menyajikan masalahnya. Misalnya seperti pada permainan perang-perangan (war
games),video memberikan informasi dan menyajikan masalah yang berupa datangnya
musuh yang akan menyerang kita dengan macam-macam cara penyerangan. Kita
diminta mempertahankan diri dan menghancurkan musuh dengan peralatan yang telah
disediakan pada video games tersebut.
4.
Model verbal
Model verbal adalah model pengambilan keputusan
berdasarkan analogi yang lebih bersifat bukan kuantitatif. Dari analog itu
kemudian dibuat dalilnya yang kemudian diterapkan untuk menyimpulkan dan
mengambil keputusan yang nonkuantitatif.
Anthony down memberikan
contoh model verbal yang berupa atau menyangkut birokrasi. Down memandang
birokrasi sebagai organisasi yang memiliki 4 ciri,sebagai berikut.
a.
Birokrasi mempunyai lingkungan yang
cukup luas dimana peringkat tertinggi hanya mengetahui kurang dari setengah
dari seluruh anggotanya secara pribadi. Ini berarti bahwa birokrasi itu
menghadapi masalah administratif
substansial.
b.
Bagian terbesar dari anggotanya
adalah karyawan penuh yang sangat menggantungkan dari pada kesempatan kerja dan
gajinya pada organisasi itu. Ini berarti bahwa pada anggotanya sangat terikat
pada pekerjaannya.
c.
Upahnya, kenaikan pangkatnya, dan
sebagainya itu sangat tergantung pada prestasinya dalam organisasi itu atau
ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh organisasi tersebut.
d.
Sebagian besar dari hasil itu secara
tidak langsung dinilai dalam pasaran. Prestasi kerja para anggota atau karyawan
secara tidak langsung juga ikut menentukan pasaran hasil
organisasinya/perusahaannya.
Dengan demikian, maka faktor intern (fungsi) dan
faktor ekstern (lingkungan) ikut berperan dan oleh karena itu perlu mendapat
perhatian. Dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pimpinan, maka
analogi terhadap berlakunya dalil dan faktor-faktor tersebut harus juga menjadi
bahan pertimbangan.
5.
Model fisik
Dalam menjalankan kebijakan pemerintah model fisik ini
tidak begitu penting untuk dianalisis. Model ini,misalnya model dalam rangka
pembuatan bangunan atau tata kota. Dalam model pengambilan bangunan misalnya
berlaku model perencanaan jaringan kerja atau model PERT dan yang sejenisnya.
Model ini merupakan serangkaian keputusan dalam program pembangunan dan
pengembangan yang cukup kompleks. Bagian-bagian mana yang dapat dilakukan
secara serentak, dalam arti tidak usah berurutan dan bagian-bagian mana yang
mengerjakan bagian berikutnya. Ini lebih merupakan tugas dan pengambilan
keputusan seorang insinyur daripada policy maker.
Klasifikasi
model pengambilan keputusan menurut Fisher:
1. Model
Preskiptif
Model yang
menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil keputusan
dengan cara memberikan pedoman dasar, agenda, jadwal dan urut-urutan yang
membantu kelompok mencapai consensus. Model ini disebtu juga sebagai model normatif.
Penerapan
model preskiptif atau model normatif meliputi lima langkah, yaitu :
1.
Orientasi, yaitu menentukan
bagaimana situasi yang dihadapi.
2.
Evaluasi, yaitu menentukan sikap
yang perlu diambil.
3.
Pengawasan, yaitu menentukan apa
yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi tersebut.
4.
Pengambilan keputusan, yaitu
menentukan pilihan atas berbagai alternatif yang telah dievaluasi.
5.
Pengendalian, yaitu melakukan
pengawasan terhadap pelaksannan hasil keputusan.
2.
Model Deskriptif
Model yang
menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan. Model ini juga menerangkan
(menggambarkan) segala sesuatu sebagaimana apa adanya. Model ini juga memberikan kepada manajer informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan-keputusan, dan tidak menawarkan penyelesaian masalah.
2.3 Model Perilaku Pengambilan keputusan
a. Model Ekonomi, yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana
keputusan orang itu rasional, yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal
sama dengan biaya marginal atau untuk memperoleh keuntungan maksimum
b. Model Manusia Administrasi, Dikemukan oleh Herbert A. Simon
dimana lebih berprinsip orang tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup
keuntungan yang memuaskan
c. Model Manusia Mobicentrik, Dikemukakan oleh Jennings, dimana
perubahan merupakan nilai utama sehingga orang harus selalu bergerak bebas
mengambil keputusan
d. Model Manusia Organisasi, Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model
ini lebih mengedepankan sifat setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan
keputusan
e. Model Pengusaha Baru, Dikemukakan oleh Wright Mills
menekankan pada sifat kompetitif
f. Model Sosial, Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya
orang sering tidak rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi
dan situsai dibawah sadar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengambilan keputusan merupakam proses
interaksi antara input-input sebagai bahan dasar
pembentukan suatu model keputusan, yang terdiri atas tujuan organisasi, kendala-kendala
intern,kriteria pelaksanaan dan berbagai alternatif pemecahan masalah. Imteraksi tersebut diharapkan akan menghasilkan output yang baik yang berupa pelaksanaan keputusan,pengendalian, dan
umpan baliknya. Pengambilan keputusan baik keputusan pribadi maupun keputusan
kelompok dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: keadaan lingkungan dn
nilai-nilai yang kerap kali bertentangan , pengaruh
politik, emosionalisme, tingkat
pendidikan, dan model keputusam faktual. Lima faktor
tersebut akan berpengaruh terhadap pembentukan suatu model.
DAFTAR
PUSTAKA
makasi banyak ya artike tentang Teori Pengambilan Keputusan nya. sangat membantu dalam tugas akhr saya
ReplyDeleteSama" :). Semoga bermanfaat
ReplyDeletelagi butuh nih. dalam pengambilan keputusan teori yang digunakan itu apa aja ?a
ReplyDelete