BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang berkembang menuntut manusia
untuk bisa berfikir dan bertindak dengan cepat tanpa mengkesampingkan
ketepatan. Orang yang tidak mau mengikuti teknologi canggih yang saat ini
sedang berkembang akan terus berada dalam keterpurukan dan keterlambatan. Dalam
menghadapi perkembangan tersebut tentu saja diperlukan fasilitas atau peralatan
dalam kesiapan sarananya.
Menurut Zakiah Daradjat (google.co.id) “ Fasilitas
adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah dan memperlancar suatu usaha atau
kegiatan dapat berupa benda-benda, maupun uang atau dengan kata lain fasilitas
dapat disamakan dengan sarana dan prasarana”. Fasilitas yang memadai mampu
menciptakan produktivitas kerja yang efesien. Suatu pekerjaan akan dikatakan
efesien jika ia dapat dilakukan dengan mudah, murah, singkat waktu, ringan
bebannya, dan pendek jaraknya. Kalangan dunia usaha baik instansi pemerintah
maupun instansi swasta dalam melakukan usaha sangat mengandalkan fasilitas atau
peralatan kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan efisien dan hasil
kerja yang optimal. Dengan itu, dituntut kesiapan dan kesanggupan dari manusia
itu sendiri dalam mengoperasikan fasilitas atau peralatan kerja tersebut. Suatu sistem kerja terdiri dari empat komponen penyusun,
antara lain tenaga kerja, bahan, mesin atau peralatan, dan lingkungan kerja. Pada suatu
sistem kerja sangat terpengaruhi oleh manusia atau tenaga
kerja yang bertindak sebagai perencana, perancang, pelaksana, dan pengendali sistem
kerja tersebut. Sistem kerja tradisional, manusia
berperan sebesar 75% dari kegiatan produksi, sedangkan sistem kerja modern yang
terotomatisasi, manusia hanya berperan sebesar 25% dari keseluruhan kegiatan produksi.
1.2 Rumusan masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan definisi perencanaan fasilitas dan sistem kerja ?
2. Bagaimana
proses perencanaan fasilitas ?
3. Apakah
yang dimaksud penempatan fasilitas dan perencanaan fasilitas ?
4. Sebutkan
faktor penempatan fasilitas ?
5. Sebutkan
metode penilaian lokasi dan sistem kerja ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui
definisi perencanaan fasilitas dan sistem kerja
2. Mengetahui
proses perencanaan fasilitas
3. Mengetahui
penempatan fasilitas dan perencanaan fasilitas
4. Menetahui
faktor penempatan fasilitas
5. Mengetahui
metode penilaian lokasi dan sistem kerja
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi perencanaan fasilitas dan
sistem kerja
Perencanaan
fasilitas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah perusahaan
beroperasi, yaitu menentukan bagaimana suatu aset tetap perusahaan digunakan
secara baik untuk menunjang tujuan perusahaan.
Perencanaan
fasilitas dibagi atas dua bagian yaitu perencanaan penempatan fasilitas dan
perancangan. Berikut akan diberikan gambar hirarki perencanaan fasilitas :
Gambar 2.1. Hirarki perencanaan fasilitas (Annisyah,2010).
Sistem kerja adalah serangkaian dari beberapa pekerjaan yang
berbeda kemudian dipadukan untuk menghasilkan suatu benda atau jasa yang
menghasilkan nilai bagi pelanggan atau keuntungan perusahaan/organisasi.
Sistem kerja melibatkan banyak faktor
manusia dan adanya keterkaitan pola kerja manusia dengan alat atau mesin,
faktor-faktor yang dikombinasikan antara manusia dengan alat tersebut di buat
suatu prosedur atau tahapan kerja yang sudah tetap dan didokumentasikan
sehingga menghasilkan suatu sistem kerja yang konsisten dan dapat menghasilkan
hasil yang berkualiatas. Contohnya :
a.
Stabilitas : maksudnya
bahwa sistem, tata, dan prosedur kerja itu harus
mengandung unsur tetap sehingga menjamin kelancaran dan kemantapan
kerja.
mengandung unsur tetap sehingga menjamin kelancaran dan kemantapan
kerja.
b. Fleksibilitas : artinya bahwa dalam pelaksanaanya tidak kaku
tetapi harus
luwes yaitu masih memungkinkan diadakannya saling pergantian
tugas.
luwes yaitu masih memungkinkan diadakannya saling pergantian
tugas.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari :
a.
Salah seorang tidak
masuk atau kebetulan salah satu mesin macet, maka pekerjaan harus tetap dapat
terlaksana dan diselesaikan.
b.
Intruksi ataupun suatu
peraturan dari perusahaan ataupun kesatuan organisasi, misalkan dalam ketepatan
waktu hadir kerja, rapat, dll
c.
Di dalam suatu
pembuatan motor, jadi ada bagian yang mengerjakan, masang bodinya, masang
lampu-lampu dll, terus disatukan dan jadilah suatu produk.
2.2 Proses perencanaan fasilitas
Perencanaan fasilitas
memerlukan suatu proses yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh hasil
yang baik. Hal ini juga mencakup perencanaan lokasi yang merupakan suatu
kegiatan strategis yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan lokasi bagi
perusahaan sehingga perusahaan atau pabrik dapat beroperasi dengan lancar,
dengan biaya rendah, dan memungkinkan perusahaan dimasa datang.
Penentuan lokasi yang tepat akan
mempengaruhi kemampuan perusahaan lain :
a. Melayani
konsumen dengan memuaskan
b. Mendapatkan
bahan-bahan mentah yang cukup dapat continuedengan harga yang layak atau
memuaskan
c. Mendapatkan
tenaga kerja yang cukup
d. Memungkinkan
perluasan perusahaan dikemudian hari
2.3 Penempatan fasilitas dan perencanaan
fasilitas
Penempatan fasilitas
adalah proses menentukan daerah atau tempat untuk sebuah aktivitas atau
fasilitas. Penempatan fasilitas berkaitan penentuan lokasi dari fasilitas yang
menunjang produksi dan distribusi barang atau jasa. Perancangan fasilitas
adalah proses membangun fasilitas sesuai dengan tujuan aktivitas.
2.4 Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan dalam penempatan fasilitas
Dalam mendapatkan lokasi suatu
perusahaan atau pabrik yang tepat, perlu untuk memperhatikan faktor-faktor yang
berkaitan denan kegiatan usaha perusahaan. Faktor-faktor itu diantara lain :
a.
Letak pasar
b.
Letak sumber bahan baku
c.
Ketersediaan tenaga kerja
d.
Ketersediaan tenaga listrik
e.
Ketersediaan air
f.
Fasilitas pengangkutan
g.
Fasilitas perumahan, pendidikan,
pembelajaran, dan telekomunikasi
h.
Pelayanan kesehatan, keamanan, dan
pencegahan kebakaran
i.
Peraturan pemerintah setempat
j.
Sikap masyarakat
k.
Biaya dari tanah dan bangunan
l.
Luas tempat parkir
m. Saluran
pembuangan
n.
Kemunginan perluasan
o.
Lebar jalan
Selain beberapa faktor
yang disebutkan diatas, perusahaan juga harus mempunyai perencanaan tata letak yang
mencakup desain atau konfigurasi dari bagian-bagian, pusat kerja, dan peralatan
yang membentuk proses perubahan dari bahan mentah menjadi barang jadi. Secara
umum, tujuan dari penyusunan tata letak adalah untuk mencapai suatu sistem
produksi yang efisien dan efektif, melaui :
a.
Pemanfaatan peralatan pabrik yang
optimal
b.
Penggunaan jumlah tenaga kerja yang
minimum
c.
Aliran bahan dan produksi jadi yang
lancar
d.
Kebutuhan persediaan yang rendah
e.
Pemakaian ruang yang efisien
f.
Ruang gerak yang cukup untuk operasional
maupun pemeliharaan
g.
Biaya produksi dan investasi modal yang
rendah
h.
Fleksibilitas yang cukup untuk
menghadapi perubahan
i.
Keselamatan kerja yang tinggi
j.
Suasana kerja yang baik
Jenis
tata letak
Dalam industry manufaktur, secara umum tata letak
bisa dikelompokkan dalam 3 jenis :
a)
Tata letak proses
Tata letak proses (proses layout)
atau tata letak fungsional adalah penyusunan tata letak dimana alat yang
sejenis atau yang mempunyai fungsi sama ditempatkan dalam bagian yang sama.
b)
Tata letak produk
Tata letak produk (produk layout)
dipilih apabila proses produksinya telah distandarsasikan dan berproduksi dalam
jumlah yang besar.
c)
Tata letak posisi tetap
Tata letak posisi tetap (fixed
position layout) dipilih apabila karena ukuran, bentuk ataupun karakteristik
lain menyebabkan produknya tidak mungkin atau sukar untuk dipindahkan.
2.5 Metode penilaian lokasi dan sistem
kerja
Terdapat
beberapa metode yang sering digunakan dalam pemilihan suatu lokasi perusahaan
yaitu :
a. Pemeringkatan
faktor
Pemeringkatan faktor (factor rating) adalah suatu
pendekatan umum yang berguna untuk mengevaluasi dan membandingkan berbagai
alternative lokasi.
b. Analisis
nilai ideal
Metode ini serupa dengan metode factor rating,
bedanya hanya bobot pada faktor rating merupakan nilai ideal pada metode ini.
c. Analisis
ekonomis
Metode ini menggunakan kuantitatif maupun kualitatif
secara bersama-sama untuk mendapatkan penilaian yang lebih lengkap.
d. Analisis
volume biaya
Metode analisis volume biaya (cost volume analysis)
menekankan pada faktor biaya dalam memilih suatu lokasi yaitu dengan
membandingkan biaya total produksi dari berbagai alternative lokasi.
e. Pendekatan
pusat graviti
Pemilihan lokasi berdasarkan metode ini sering kali
digunakan untuk memilih sebuah lokasi yang dapat meminimalkan jarak atau biaya
menuju fasilitas-fasilitas yan sudah ada.
f. Metode
transfortasi
Metode transfortasi merupakan salah
satu metode dalam riset operasi yang dapat digunakan dalam memilih suatu lokasi
perusahaan pada prinsipnya metode ini mencari nilai optimal yang dapat
diperoleh dengan memperhitungkan pemenuhan permintaan dan penawaran dengan
biaya transfortasi yang rendah.
g. Metode
sistem kerja
Metode sistem kerja merupakan
kesatuan ide yang dapat di aplikasikan dimana penggunaan konsep “sistem kerja”
diangap sebagai titik untuk mamahami, menganalisa, dan memperbaiki sistem dalam
suatu organisasi, baik IT termasuk didalamnya ataupun tidak.
Dasar dari metode sistem
kerja, antara lain :
a. Hubungan
antara sistem kerja dan bidang sistem informasi. Konsep dari sistem kerja
yaitu, kasus umum yang mencakup sistem informasi, projects, rantai nilai,
rantai supply, dan kasus special lainnya.
b. Warisan
dari komponen dan property dari sistem kerja. Kasus spesial dari sistem kerja, sistem
informasi dan projects mungkin mewariskan elemen sistem, property, dan
generalisasi dari sistem kerja secara umum.
c. Pemahaman
tujuan dan kunci sukses dari sistem informasi. Sistem informasi yang ada
mendukung satu atau lebih dari sistem kerja yang mungkin tidak sama sekali,
sebagian ataupun seluruhnya mengunakan sistem informasi.
d. Model siklus hidup sistem kerja. Sistem
informasi dan sistem kerja. Aktifitas-aktifitas dalam proses bisnis dibatasi
dan bersifat komputerisasi ataupun manual.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Perencanaan fasilitas
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah perusahaan
beroperasi yaitu
menentukan bagaimana suatu aset tetap perusahaan digunakan secara baik untuk
menunjang tujuan perusahaan. Sedangkan sistem
kerja adalah serangkaian dari beberapa pekerjaan yang berbeda kemudian
dipadukan untuk menghasilkan suatu benda atau jasa yang menghasilkan nilai bagi
pelanggan atau keuntungan perusahaan/organisasi.
Fasilitas adalah sarana
dan prasarana untuk melancarkan atau mempermudah pelaksanaan suatu pekerjaan.
Kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu. Jadi, pengertian fasilitas kerja
adalah segala sesuatu berupa sarana dan prasarana yang dapat membantu memudahkan
suatu kegiatan atau aktivitas. Dalam pelaksanaan proses perkantoran yang
produktif, maka perusahan harus menyediakan fasilitas kerja yang lengkap.
Sementara itu dalam proses penyediaan fasilitas yang baik dibutuhkan
perencanaan fasilitas.
3.2 SARAN
1. Suatu perusahaan yang ingin berkembang harus mempertimbangkan
perencanaan fasilitas dan sistem kerja secara matang agar meminimalkan
kegagalan dalam pelaksanaan.
2. Diperlukan evaluasi postur kerja untuk
mengetahui apakah postur kerja pekerja sudah benar
dengan tingkat kecelakaan yang kecil serta dapat menyesuaikan antara
pekerjaan dan kemampuan dari pekerja tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Annisyah, Eka
Mariska. 2010. “Perancangan dan Perencanaan Fasilitas”, (online),
(http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=669:fasilitas&catid=25:industri&Itemid=14,
diakses 15 Oktober 2013)
No comments:
Post a Comment