Tuesday, September 8, 2015

MANAJEMEN OPERASI (PERENCANAAN FASILITAS)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang berkembang menuntut manusia untuk bisa berfikir dan bertindak dengan cepat tanpa mengkesampingkan ketepatan. Orang yang tidak mau mengikuti teknologi canggih yang saat ini sedang berkembang akan terus berada dalam keterpurukan dan keterlambatan. Dalam menghadapi perkembangan tersebut tentu saja diperlukan fasilitas atau peralatan dalam kesiapan sarananya.
Menurut Zakiah Daradjat (google.co.id) “ Fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah dan memperlancar suatu usaha atau kegiatan dapat berupa benda-benda, maupun uang atau dengan kata lain fasilitas dapat disamakan dengan sarana dan prasarana”. Fasilitas yang memadai mampu menciptakan produktivitas kerja yang efesien. Suatu pekerjaan akan dikatakan efesien jika ia dapat dilakukan dengan mudah, murah, singkat waktu, ringan bebannya, dan pendek jaraknya. Kalangan dunia usaha baik instansi pemerintah maupun instansi swasta dalam melakukan usaha sangat mengandalkan fasilitas atau peralatan kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan efisien dan hasil kerja yang optimal. Dengan itu, dituntut kesiapan dan kesanggupan dari manusia itu sendiri dalam mengoperasikan fasilitas atau peralatan kerja tersebut. Suatu sistem kerja terdiri dari empat komponen penyusun, antara lain tenaga kerja, bahan, mesin atau peralatan, dan lingkungan kerja. Pada suatu sistem kerja sangat terpengaruhi oleh manusia atau tenaga kerja yang bertindak sebagai perencana, perancang, pelaksana, dan pengendali sistem kerja tersebut. Sistem kerja tradisional, manusia berperan sebesar 75% dari kegiatan produksi, sedangkan sistem kerja modern yang terotomatisasi, manusia hanya berperan sebesar 25% dari keseluruhan kegiatan produksi.
1.2  Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan definisi perencanaan fasilitas dan sistem kerja ?
2.      Bagaimana proses perencanaan fasilitas ?
3.      Apakah yang dimaksud penempatan fasilitas dan perencanaan fasilitas ?
4.      Sebutkan faktor penempatan fasilitas ?
5.      Sebutkan metode penilaian lokasi dan sistem kerja ?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui definisi perencanaan fasilitas dan sistem kerja
2.      Mengetahui proses perencanaan fasilitas
3.      Mengetahui penempatan fasilitas dan perencanaan fasilitas
4.      Menetahui faktor penempatan fasilitas
5.      Mengetahui metode penilaian lokasi dan sistem kerja









BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi perencanaan fasilitas dan sistem kerja
      Perencanaan fasilitas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah perusahaan beroperasi, yaitu menentukan bagaimana suatu aset tetap perusahaan digunakan secara baik untuk menunjang tujuan perusahaan.
      Perencanaan fasilitas dibagi atas dua bagian yaitu perencanaan penempatan fasilitas dan perancangan. Berikut akan diberikan gambar hirarki perencanaan fasilitas : Gambar 2.1. Hirarki perencanaan fasilitas (Annisyah,2010).
      Sistem kerja adalah serangkaian dari beberapa pekerjaan yang berbeda kemudian dipadukan untuk menghasilkan suatu benda atau jasa yang menghasilkan nilai bagi pelanggan atau keuntungan perusahaan/organisasi. 
      Sistem kerja melibatkan banyak faktor manusia dan adanya keterkaitan pola kerja manusia dengan alat atau mesin, faktor-faktor yang dikombinasikan antara manusia dengan alat tersebut di buat suatu prosedur atau tahapan kerja yang sudah tetap dan didokumentasikan sehingga menghasilkan suatu sistem kerja yang konsisten dan dapat menghasilkan hasil yang berkualiatas. Contohnya :
a.       Stabilitas : maksudnya bahwa sistem, tata, dan prosedur kerja itu harus 
mengandung unsur tetap sehingga menjamin kelancaran dan kemantapan 
kerja.
b.      Fleksibilitas : artinya bahwa dalam pelaksanaanya tidak kaku tetapi harus 
luwes yaitu masih memungkinkan diadakannya saling pergantian 
tugas.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari :
a.       Salah seorang tidak masuk atau kebetulan salah satu mesin macet, maka pekerjaan harus tetap dapat terlaksana dan diselesaikan.
b.      Intruksi ataupun suatu peraturan dari perusahaan ataupun kesatuan organisasi, misalkan dalam ketepatan waktu hadir kerja, rapat, dll
c.       Di dalam suatu pembuatan motor, jadi ada bagian yang mengerjakan, masang bodinya, masang lampu-lampu dll, terus disatukan dan jadilah suatu produk.
2.2  Proses perencanaan fasilitas
      Perencanaan fasilitas memerlukan suatu proses yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh hasil yang baik. Hal ini juga mencakup perencanaan lokasi yang merupakan suatu kegiatan strategis yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan lokasi bagi perusahaan sehingga perusahaan atau pabrik dapat beroperasi dengan lancar, dengan biaya rendah, dan memungkinkan perusahaan dimasa datang.

Penentuan lokasi yang tepat akan mempengaruhi kemampuan perusahaan lain :
a.       Melayani konsumen dengan memuaskan
b.      Mendapatkan bahan-bahan mentah yang cukup dapat continuedengan harga yang layak atau memuaskan
c.       Mendapatkan tenaga kerja yang cukup
d.      Memungkinkan perluasan perusahaan dikemudian hari
2.3  Penempatan fasilitas dan perencanaan fasilitas
      Penempatan fasilitas adalah proses menentukan daerah atau tempat untuk sebuah aktivitas atau fasilitas. Penempatan fasilitas berkaitan penentuan lokasi dari fasilitas yang menunjang produksi dan distribusi barang atau jasa. Perancangan fasilitas adalah proses membangun fasilitas sesuai dengan tujuan aktivitas.
2.4  Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penempatan fasilitas
      Dalam mendapatkan lokasi suatu perusahaan atau pabrik yang tepat, perlu untuk memperhatikan faktor-faktor yang berkaitan denan kegiatan usaha perusahaan. Faktor-faktor itu diantara lain :
a.          Letak pasar
b.         Letak sumber bahan baku
c.          Ketersediaan tenaga kerja
d.         Ketersediaan tenaga listrik
e.          Ketersediaan air
f.          Fasilitas pengangkutan
g.         Fasilitas perumahan, pendidikan, pembelajaran, dan telekomunikasi
h.         Pelayanan kesehatan, keamanan, dan pencegahan kebakaran
i.           Peraturan pemerintah setempat
j.           Sikap masyarakat
k.         Biaya dari tanah dan bangunan
l.           Luas tempat parkir
m.       Saluran pembuangan
n.         Kemunginan perluasan
o.         Lebar jalan
      Selain beberapa faktor yang disebutkan diatas, perusahaan juga harus mempunyai perencanaan tata letak yang mencakup desain atau konfigurasi dari bagian-bagian, pusat kerja, dan peralatan yang membentuk proses perubahan dari bahan mentah menjadi barang jadi. Secara umum, tujuan dari penyusunan tata letak adalah untuk mencapai suatu sistem produksi yang efisien dan efektif, melaui :
a.          Pemanfaatan peralatan pabrik yang optimal
b.         Penggunaan jumlah tenaga kerja yang minimum
c.          Aliran bahan dan produksi jadi yang lancar
d.         Kebutuhan persediaan yang rendah
e.          Pemakaian ruang yang efisien
f.          Ruang gerak yang cukup untuk operasional maupun pemeliharaan
g.         Biaya produksi dan investasi modal yang rendah
h.         Fleksibilitas yang cukup untuk menghadapi perubahan
i.           Keselamatan kerja yang tinggi
j.           Suasana kerja yang baik
Jenis tata letak          
Dalam industry manufaktur, secara umum tata letak bisa dikelompokkan dalam 3 jenis :
a)         Tata letak proses
Tata letak proses (proses layout) atau tata letak fungsional adalah penyusunan tata letak dimana alat yang sejenis atau yang mempunyai fungsi sama ditempatkan dalam bagian yang sama.
b)         Tata letak produk
Tata letak produk (produk layout) dipilih apabila proses produksinya telah distandarsasikan dan berproduksi dalam jumlah yang besar.
c)         Tata letak posisi tetap
Tata letak posisi tetap (fixed position layout) dipilih apabila karena ukuran, bentuk ataupun karakteristik lain menyebabkan produknya tidak mungkin atau sukar untuk dipindahkan. 

2.5  Metode penilaian lokasi dan sistem kerja       
Terdapat beberapa metode yang sering digunakan dalam pemilihan suatu lokasi perusahaan yaitu :
a.       Pemeringkatan faktor
Pemeringkatan faktor (factor rating) adalah suatu pendekatan umum yang berguna untuk mengevaluasi dan membandingkan berbagai alternative lokasi.
b.      Analisis nilai ideal
Metode ini serupa dengan metode factor rating, bedanya hanya bobot pada faktor rating merupakan nilai ideal pada metode ini.
c.       Analisis ekonomis
Metode ini menggunakan kuantitatif maupun kualitatif secara bersama-sama untuk mendapatkan penilaian yang lebih lengkap.
d.      Analisis volume biaya
Metode analisis volume biaya (cost volume analysis) menekankan pada faktor biaya dalam memilih suatu lokasi yaitu dengan membandingkan biaya total produksi dari berbagai alternative lokasi.
e.       Pendekatan pusat graviti
Pemilihan lokasi berdasarkan metode ini sering kali digunakan untuk memilih sebuah lokasi yang dapat meminimalkan jarak atau biaya menuju fasilitas-fasilitas yan sudah ada.
f.       Metode transfortasi
Metode transfortasi merupakan salah satu metode dalam riset operasi yang dapat digunakan dalam memilih suatu lokasi perusahaan pada prinsipnya metode ini mencari nilai optimal yang dapat diperoleh dengan memperhitungkan pemenuhan permintaan dan penawaran dengan biaya transfortasi yang rendah.
g.      Metode sistem kerja
Metode sistem kerja merupakan kesatuan ide yang dapat di aplikasikan dimana penggunaan konsep “sistem kerja” diangap sebagai titik untuk mamahami, menganalisa, dan memperbaiki sistem dalam suatu organisasi, baik IT termasuk didalamnya ataupun tidak.
Dasar dari metode sistem kerja, antara lain :
a.       Hubungan antara sistem kerja dan bidang sistem informasi. Konsep dari sistem kerja yaitu, kasus umum yang mencakup sistem informasi, projects, rantai nilai, rantai supply, dan kasus special lainnya.
b.      Warisan dari komponen dan property dari sistem kerja. Kasus spesial dari sistem kerja, sistem informasi dan projects mungkin mewariskan elemen sistem, property, dan generalisasi dari sistem kerja secara umum.
c.       Pemahaman tujuan dan kunci sukses dari sistem informasi. Sistem informasi yang ada mendukung satu atau lebih dari sistem kerja yang mungkin tidak sama sekali, sebagian ataupun seluruhnya mengunakan sistem informasi.
d.       Model siklus hidup sistem kerja. Sistem informasi dan sistem kerja. Aktifitas-aktifitas dalam proses bisnis dibatasi dan bersifat komputerisasi ataupun manual.


  





BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
Perencanaan fasilitas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah perusahaan beroperasi yaitu menentukan bagaimana suatu aset tetap perusahaan digunakan secara baik untuk menunjang tujuan perusahaan. Sedangkan sistem kerja adalah serangkaian dari beberapa pekerjaan yang berbeda kemudian dipadukan untuk menghasilkan suatu benda atau jasa yang menghasilkan nilai bagi pelanggan atau keuntungan perusahaan/organisasi. 
Fasilitas adalah sarana dan prasarana untuk melancarkan atau mempermudah pelaksanaan suatu pekerjaan. Kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu. Jadi, pengertian fasilitas kerja adalah segala sesuatu berupa sarana dan prasarana yang dapat membantu memudahkan suatu kegiatan atau aktivitas. Dalam pelaksanaan proses perkantoran yang produktif, maka perusahan harus menyediakan fasilitas kerja yang lengkap. Sementara itu dalam proses penyediaan fasilitas yang baik dibutuhkan perencanaan fasilitas.
3.2 SARAN
1.      Suatu perusahaan yang ingin berkembang harus mempertimbangkan perencanaan fasilitas dan sistem kerja secara matang agar meminimalkan kegagalan dalam  pelaksanaan.

2.      Diperlukan evaluasi postur kerja untuk mengetahui apakah postur kerja pekerja sudah benar dengan tingkat kecelakaan yang kecil serta dapat menyesuaikan antara pekerjaan dan kemampuan dari pekerja tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Annisyah, Eka Mariska. 2010. “Perancangan dan Perencanaan Fasilitas”, (online),
(http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=669:fasilitas&catid=25:industri&Itemid=14, diakses 15 Oktober 2013)

No comments:

Post a Comment