gores pena

Tuesday, September 8, 2015

MANAJEMEN OPERASI (MANAJEMEN PENGENDALI MUTU)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perusahaan pada hakekatnya terdiri dari kumpulan orang-orang dan peralatan operasionalnya. Sehingga upaya pencapaian tujuan dalam memaksimalkan keuntungan dan berhasil atau tidaknya suatu misi perusahaan untuk mencapai tujuan atau pengendalian mutu oleh individu-individu yang menjalankan manajemen yang dilaksanakan perusahaan.
Masalah manajemen itu akan selalu ada bila perusahaan masih menjalankan manajemen pengendalian mutu yang tidak baik. Jadi manajemen pengendalian mutu sangat penting bagi seorang manajer dalam menentukan otoritas tertinggi untuk mengerakkan karyawan. Agar dapat melakukan aktivitas atau bekerja secara efektif bagi perusahaan demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Seorang manajer dalam menggerakkan orang-orang untuk mendapatkan sesuatu haruslah mempunyai ilmu pengetahuan dan seni, agar orang mau melakukannya. Untuk itulah diperlukan suatu wadah yang dapat menghimpun setiap orang, wadah itulah yang disebut dengan organisasi.
Perusahaan yang mempunyai pengendalian mutu yang baik dan teratur kemunginan besar tidak akan mengalami hambatan-hambatan dalam mengerjakan tugasnya dengan efektif. Dan begitu pula sebaliknya bila perusahaan tidak mempunyai organisasi yang baik dan teratur. Sehingga dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan kepada bawahan akan mengalami hambatan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh pimpinan kepada bawahan.

1.2  Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan definisi manajemen ?
2.      Sebutkan fungsi manajemen ?
3.      Sebutkan prinsip dan tingkatan manajemen ?
4.      Apa yang dimaksud dengan definisi mutu ?
5.      Sebutkan konsep mutu ?
6.      Sebutkan dimensi mutu ?
7.      Apa yang dimaksud dengan manajemen pengendalian mutu ?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui definisi manajemen
2.      Mengetahui fungsi manajemen
3.      Mengetahui prinsip dan tingkatan manajemen
4.      Mengetahui definisi mutu
5.      Mengetahui konsep mutu
6.      Mengetahui dimensi mutu
7.      Mengetahui manajemen pengendalian mutu 






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi manajemen
1. Pengertian manajemen ditinjau dari segi (art)
Pengertian manajemen ditinjau dari segi seni dikemukakan oleh Mary Parker Follet. Follet berpendapat bahwa pengertian manajemen ialah seni (art) dalam menyelesaikan pekerjaan (duty) orang lain.
2. Pengertian manajemen ditinjau dari segi ilmu pengetahuan
Pengertian manajemen ditinjau dari segi ilmu pengetahuan dikemukakan oleh Luther Gulick. Gulick mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah bidang pengetahuan yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
3. Pengertian Manajemen ditinjau dari segi proses
Pengertian manajemen ditinjau dari segi proses menurut James A.F. Stoner. Stoner berpendapat bahwa definisi manajemen adalah proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leadership) dan pengawasan (mengendalikan /controlling) kegiatan anggota dan tujuan penggunaan organisasi yang sudah ditentukan.



2.2 Fungsi manajemen


Sumber daya manajemen (6M)

Secara umum, ada empat fungsi manajemen yang sering orang menyebutnya “POAC”, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Dua fungsi yang pertama dikategorikan sebagai kegiatan mental sedangkan dua berikutnya dikategorikan sebagai kegiatan fisik. Suatu manajemen bisa dikatakan berhasil jika keempat fungsi di atas bisa dijalankan dengan baik. Kelemahan pada salah satu fungsi manajemen akan mempengaruhi manajemen secara keseluruhan dan mengakibatkan tidak tercapainya proses yang efektif dan efisien.

1.      Fungsi perencanaan ( planning )
2.         Fungsi pengorganisasian ( Organizing )
3.         Fungsi pengarahan dan implementasi ( actuating )
4.         Fungsi pengawasan dan pengendalian ( controling )

2.3     Prinsip manajemen

Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah. Menurut Henry Fayol, seorang pencetus teori manajemen yang berasal dari Perancis, prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari :

1.      Pembagian kerja (division of work)

2.      Wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility)

3.      Disiplin (discipline)

4.      Kesatuan perintah (unity of command)

5.      Kesatuan pengarahan (unity of direction)

6.      Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri (subordination of individual interests to the general interests)

7.      Pembayaran upah yang adil (renumeration)

8.      Pemusatan (centralisation)

9.   Hirarki (hierarchy)

10.  Tata tertib (order)

11.  Keadilan (equity)

12.  Stabilitas kondisi karyawan (stability of tenure of personnel)

13.  Inisiatif (Inisiative)

14.  Semangat kesatuan (esprits de corps)





TINGKATAN MANAJEMEN



Pada organisasi berstruktur tradisional, manajemen sering dikelompokan menjadi manajemen puncak, manajemen tingkat menengah, dan manajemen lini pertama (biasanya digambarkan dengan bentuk piramida, di mana jumlah karyawan lebih besar di bagian bawah daripada di puncak).

Manejemen lini pertama (first-line management), dikenal pula dengan istilah manajemen operasional, merupakan manajemen tingkatan paling rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan non-manajerial yang terlibat dalam proses produksi. Mereka sering disebut penyelia (supervisor), manajer shift, manajer area, manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman).


Manajemen tingkat menengah (middle management) mencakup semua manajemen yang berada di antara manajer lini pertama dan manajemen puncak dan bertugas sebagai penghubung antara keduanya. Jabatan yang termasuk manajer menengah di antaranya kepala bagian, pemimpin proyek, manajer pabrik, atau manajer divisi.

Manajemen puncak (top management), dikenal pula dengan istilah executive officer, bertugas merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Contoh top manajemen adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO (Chief Information Officer), dan CFO (Chief Financial Officer).

Meskipun demikian, tidak semua organisasi dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan menggunakan bentuk piramida tradisional ini. Misalnya pada organisasi yang lebih fleksibel dan sederhana, dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tim karyawan yang selalu berubah, berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya sesuai dengan permintaan pekerjaan.


2.4     Pengertian mutu

Mutu  merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan  produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Difinisi konvensional dari kualitas  biasanya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk, seperti performansi, keandalan, mudah dalam penggunaan dan estetika.



Meskipun tidak ada difinisi yang bisa diterima secara universal mengenai kualitas, namun dasar pengertiannya terdapat persamaan yaitu dalam unsurnya sebagai berikut :

1.      Kualitas/mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
2.      Kualitas/mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan.
3.      Kualitas merupakan suatu kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap  merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang).

Ada 2 keuntungan yang dicapai dengan menghasilkan produk atau pelayanan bermutu.

Pertama, Peningkatan Pasar (Market Gain)

Mutu produk atau pelayanan yang meningkat akan membuat produk (baik barang maupun jasa) tersebut makin dikenal sehingga  permintaan pasar meningkat dan keuntungan perusahaan juga meningkat. sebuah kitchen/wardrobe yang bagus desainnya sekaligus tahan lama akan makin banyak dikenal dan dicari orang. demikian juga rumah sakit atau bank yang memberikan pelayanan yang baik kepada pasien atau nasabahnya akan makin didatangi orang yang membutuhkan jasanya.

Kedua Penghematan Biaya (Cost Saving)

Mutu produk yang meningkat akan menurunkan biaya produksi atau service. cacat  produk tentu akan mengakibatkan penggantian ulang (rework) yang membutuhkan tambahan biaya material, biaya tenaga kerja, listrik,dll, yang mengurangi keuntungan perusahaan.


2.5     Konsep mutu

Konsep mutu menurut ISO 9000:2000 didefinisikan sebagai karakterristik yang melekat pada produk yang mencukupi persyaratan atau keinginan.karateristik produk diantarnya terdiri dari (Suardi,2003:3) :

a.    Karakteristik fisik, seperi handphone,mobil,dan rumah.
b.    Karakteristik prilaku, seperti rumah sakit dan perbankan
c.    Karakteristik sensori, seperti minuman dan makanan.
Jadi secara umum mutu dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.    Mutu mencakup usaha untuk memenuhi harapan dari pelanggan
b.   Mutu mencakup produk,jasa,proses dan lingkungan.
c.    Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah.
2.6     Alasan memproduksi barang berkualitas

Ada 3 alasan memproduksi produk berkualitas :

Produk berkualitas prima memang akan lebih atraktif bagi konsumen, bahkan akhirnya dapat meningkatkan volume penjualan. Tetapi lebih dari itu,  produk berkualitas mempunyai aspek penting lain, yakni:

Pertama :
Konsumen yang membeli produk  berdasarkan mutu, umumnya mereka mempunyai loyalitas  produk yang besar dibandingkan dengan konsumen yang membeli berdasarkan orientasi harga. Normalnya,  konsumen berbasis mutu akan selalu membeli produk tersebut sampai saat produk tersebut membuat dia merasa tidak puas karena adanya produk lain  yang lebih bermutu. Tetapi selama produk semula masih selalu  melakukan perbaikan mutu (quality improvement) dia akan tetap setia dengan tetap membelinya. Berbeda dengan konsumen berbasis harga, dia akan mencari produk yang harganya lebih murah, apapun mereknya.  Jadi konsumen terakhir tersebut tidak mempunyai loyalitas produk.
Kedua :
 Bersifat kontradiktif dengan cara berfikir bisnis tradisional, ternyata bahwa memproduksi barang  bermutu tidak secara otomatis lebih mahal dengan memproduksi barang bermutu rendah. Banyak perusahaan menemukan (discovery) bahwa memproduksi produk  bermutu tidak harus berharga lebih mahal. Mengapa? Fakta menunjukkan, bahwa cara (methods)  berproduksi untuk menghasilkan produk bermutu tinggi secara simultan meningkatkan produktivitas, antara lain mengurangi penggunaan bahan (reduce materials usage) dan mengurangi biaya. Misalnya diberikan contoh  dua ibu rumah tangga masing masing mendapat pesanan membuat kue donat 5000 buah yang harus diserahkan besok pagi pukul 10.00. Keduanya ahli membuat kue. Bedanya yang satu memakai mixer tradisional (dikocok dengan manual) sedangkan yang satu menggunakan mixer listrik. Juga ovennya, yang satu dengan oven tradisional, sedangkan yang lain dengan oven listrik.  Soal kecepatan, artinya produktivitas  per satuan waktu tentunya, alat modern (yang harganya lebih mahal) akan lebih cepat berproses produksi. Hasilnyapun, akan lebih bermutu, harga jualpun mungkin lebih murah (competitive), karena tidak perlu mengeluarkan upah tenaga kerja yang lebih banyak (baik untuk mengaduk adonan) maupun untuk ’menjaga’ oven yang otomatis.


Ketiga:
Menjual barang tidak bermutu, kemungkinan akan banyak menerima keluhan dan pengembalian barang dari konsumen. Atau biaya untuk memperbaikinya. (after sales services) menjadi sangat besar, selain memperoleh citra tidak baik. Belum lagi kecelakaan ydiderita oleh konsumen  akibat pemakaian produk yang bermutu rendah. Konsumen tersebut mungkin akan menuntut ganti rugi melalui pengadilan.

2.7  Manajemen Pengendalian Mutu
Dalam rekayasa dan manufaktur, pengendalian mutu atau pengendalian kualitas melibatkan pengembangan sistem untuk memastikan bahwa produk dan jasa dirancang dan diproduksi untuk memenuhi atau melampaui persyaratan dari pelanggan. Sistem-sistem ini sering dikembangkan bersama dengan disiplin bisnis atau rekayasa lainnya dengan menggunakan pendekatan lintas fungsional. ISO 9000 dan TQM (Total Quality Management) adalah contoh standar dan pendekatan yang digunakan untuk pengendalian mutu. Beberapa teknik telah dikembangkan untuk memelihara pengendalian mutu.
Diantaranya adalah pemeriksaan total, mengecek noda, pengendalian mutu secara statis, dan nol cacat. Sebagai teknik pengendalian mutu, pemeriksaan total melibatkan kelengkapan dan pemeriksaan total pekerjaan yang diproduksi oleh masing-masing karyawan untuk menentukanya atau tidaknya standar mutu minimum telah dicapai.Jika bukan, ukuran mengoreksi barangkali akan diambil. Pemeriksaan Total diinginkan untuk tertentu jenis pekerjaan ketatausahaan. Seperti contoh yang umum pemeriksaan total adalah koreksi cetakan pekerjaan diketik. Lain contoh pekerjaan ketatausahaan yang sering menerima total pemeriksaan adalah verifikasi kalkulasi seperti ilmu hitung penting dan hasil menyusun data statistik. Oleh karena itu sifat alami beberapa bentuk pekerjaan ketatausahaan, pemeriksaan total mungkin tidak perlu
1.         Perencanaan standar mutu 
Meliputi proses identifikasi kebutuhan masyarakat sasaran secara objektif dan setepat mungkin serta mewujudkannya dalam program. Dengan demikian, kegiatan yang akan dilakukan hendaknya didahului dengan survei langsung terhadap permasalahan di masyarakat. Dari hasil survei dan masukan-masukan masyarakat, direncanakan kegiatan, target sasaran dan kualitas kegiatan pengabdian.
2.         Pengendalian mutu 
Adalah pelaksanaan langkah-langkah (prosedur) yang telah direncanakan agar terkendali dan taat prosedur, sehingga semua berlangsung sebagaimana mestinya. Setiap item kegiatan harus taat prosedur dan perubahan item kegiatan dilakukan setelah evaluasi yang cermat. Dengan demikian mutu kegiatan yang direncanakan tercapai dan terjamin.
3.         Peningkatan mutu kegiatan 
Meliputi evaluasi untuk menemukan kelemahan dan permasalahan dari informasi sebelumnya, yakni perencanaan standar mutu, pengendalian mutu, dan informasi tentang implementasi di lapangan. Dari hasil evaluasi, kemudian direncanakan standar mutu dan metode pengendalian mutu yang baru. Keberhasilan penjaminan mutu dapat diukur dari indikator-indikator sebagai berikut:
1). Relevansi, yakni kegiatan pengabdian dengan kebutuhan masyarakat pengguna yang menjadi target kegiatan.
2). Efisiensi, yakni kehematan penggunaan sumber daya dana, tenaga, waktu, untuk produksi dan penyajian jasa pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengguna.
3). Efektivitas, yakni kesesuaian perencanaan dengan hasil yang dicapai, atau ketepatan sistem, metode, dan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan jasa yang direncanakan.
4). Akuntabilitas, yakni dapat tidaknya kinerja dan jasa tersebut dipertanggungjawabkan.
5). Kreativitas, yakni kemampuan lembaga mengadakan inovasi, pembaharuan, atau menciptakan sesuatu yang sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk kemampuan evaluasi diri.
6). Empati, yakni kemampuan para pengelola pengabdian memberikan pelayanan sepenuh dan setulus hati kepada semua khalayak sasaran.
7). Ketanggapan, yakni kemampuan para pengelola kegiatan pengabdian memperhatikan dan memberikan respons terhadap keadaan serta kebutuhan masyarakat pengguna dengan cepat dan tepat.
8). Produktivitas, yakni kemampuan lembaga dan seluruh staf pengelola untuk menghasilkan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengguna.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Manajemen secara umum adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian/ pengawasaan, yang dilakuakan untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya. Sedangkan pengendalian mutu adalah semua fungsi atau kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran perusahaan dalam hal mutu barang atau jasa yang diproduksi.
Dalam hal ini pengendalian mutu melibatkan pengembangan system untuk memastikan bahwa produk dan jasa yang dirancang dan diproduksi telah memenuhi persyaratan dari pelanggan maupun produsen itu sendiri. Ada 4 bagian untuk menjadikan Pengendalian Mutu yang baik, antara lain :
1.      Sumber Daya Manusia ( SDA )
2.      Keuangan
3.      Produksi
4.      Pemasaran
DAFTAR PUSTAKA

No comments:

Post a Comment